•November 6, 2020 • Leave a Comment

SANG JAGOAN #TRIBUTE TO KHABIB

•October 26, 2020 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Saya ikut menangis saat menonton sang juara dunia tersedu-sedu di lantai Oktagon. Dia terkenang jasa ayahnya. Dalam hatinya mungkin membatin,”Mungkinkah seluruh pencapaian itu jika tidak DITEMPA sedari kecil?”

Lalu, dia memutuskan pensiun di puncak karirnya demi menepati JANJI pada ibu – orang tuanya yang tersisa: untuk menjaga dan merawat.

Begitulah anak lelaki yang menghayati tanggung jawab, tahu kapan harus berhenti mengejar silaunya dunia untuk pulang ke kaki ibunya, sebagai pengganti ayahnya.

“You just made your father so proud”, begitu bisikan takzim sang lawan yang baru saja dihempaskannya. Yang mengakui kehebatannya, tak hanya
di atas podium dan dalam ring, tetapi juga hebat melawan ego, ambisi, dan gegap gempita kekaguman orang, untuk kemudian turun panggung dan memilih prioritas.
Kerana apa? Kerana merasa BERHUTANG kepada orang tua😔

What a great fighter! STILL undefeated champion of the world. The one and only

……………………………………………………………………

Sekarang, mengerti kan mengapa kau kusebut “jagoan”? 😔

#bertarungmelawandirisendiri

#tepukdadatanyaselera

ANAK KECIL ITU MENUKIL SAPARDI DJOKO DAMONO…

•July 19, 2020 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Adakalanya, saya tak ingin menulis apa-apa di media sosial. Walau sebenarnya, ada yang menggelegak di batin, menuntut untuk diluahkan…

Tetapi, dalam beberapa kali keadaan, saya memilih menikmatinya sendiri. Membungkam kata-kata. Berkontemplasi ke dalam diri, menerokai jiwa sendiri. Berdialog dengan yang terdekat saja.

Dialog ke dalam diri biasanya mengingatkan saya pada seorang gadis kecil. Dialah tempatku ngobrol dan beradu pandangan. Umpan baliknya kadang-kadang mengejutkan.

Ya, di balik sifat pemalunya yang “tallewa’-lewa'” (berlebihan), dia adalah anak kecil yang gemar memikirkan sesuatu dengan dalam, lalu menulisnya. Yang “merepotkan” adalah dia tidak ingin diintervensi. Termasuk soal judul dan isi tulisan. Pernah dia bad mood saat tulisannya diubah. Pernah dia keukeuh bertahan agar judulnya harus tetap ada kata “upil” (baca https://indonesiawindow.com/sesuatu-yang-lebih-kecil-dari-upil/). Katanya,”Biar aja, suka-suka kite yang nulis. Kan dari otak kite”. 🙈

Saat akan menerbitkan buku ketiganya, saya bertanya,”Mau dikasih judul apa nih bukunya?”.

Dengan selow dan tatapan agak menuduh, dia bilang ,”Kite mau judul: EDITOR ITU MENGHAPUS KALIMATKU”.

Gubrak!! 🙈

Sebagai pihak yang tertuduh, kindoq-nya hanya tertawa, tak mampu membela diri. Begitu telak terasa pukulan balik anak kecil itu.

Faktanya memang begitu, seringkali beberapa paragrafnya harus dibuang (yang menurutnya sudah ditulisnya semalaman dan penuh perasaan 🤭). 15 paragraf dipangkas menjadi 10 paragraf, 10 menjadi 7 paragraf. Saya hanya menjelaskan, tidak semua perkara harus diungkapkan, apatah lagi dibaca publik. Sebagai penulis anak-anak, dia perlu dipahamkan tentang tanggung jawab sosial seorang penulis. Apapun isi yang kita tulis, kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Akhirnya, dia mafhum. Dia pun membuat judul buku ketiganya dari kata-katanya sendiri: SIA-SIA SAJA AIR MATAMU.

“Btw, dapat dari mana judul yang pertama tadi?” tanyaku.

Dia menunjuk buku yang sedang dibacanya. Buku yang baru dibeli saat bazar, berjudul ‘ SUTRADARA ITU MENGHAPUS DIALOG KITA’, karya Sapardi Djoko Damono. Sastrawan besar tanah air.

Saya pancing, “Memangnya, itu maksudnya apa?”.

Hmm…dia mikir dan angkat bahu. Kembali larut membaca Sapardi. Entahlah, dia paham isinya atau hanya sekedar membaca? Saya biarkan saja dia tenggelam. Walaupun bahasanya berat, tapi membaca karya Sapardi lebih aman ketimbang dia membaca buku-buku penulis yang liberal.

Sekarang, dia sedang break menulis. Hari-harinya dipenuhi dengan hafalan dan rutinitas pondok di Gontor Putri. Jika hari ini dia menelpon, akan kusampaikan satu kabar duka bahwa Eyang Sapardi telah berpulang menemui Sutradara hidup ini. Sutradara yang mengatur segala peristiwa beserta rencana-rencana yang ada di baliknya…

Siang ini, saya baru sempat mengintip halaman yang sedang dibacanya ketika itu, Februari 2020. Halaman yang berisi 3 bait, ada nukilan berisi isyarat-isyarat tipis perpisahahan yang ingin disampaikan oleh Sapardi:

“Sutradara memang tidak peduli pada coretan-coretan di naskah yang kita hafal/kata-kata yang dihilangkan/tanda seru yang dibisukan/dan ‘mu’ yang tak jua ditulis dengan huruf kapital”

“Pada suatu subuh yang tanpa sutradara/ternyata kita pun tetap gagap untuk ingat/pukul berapa harus berangkat….”

Selamat jalan, Eyang Sapardi…

Selaman jalan, Puisi…

Makassar, lupa tahun berapa

RAMADHAN PERGI…

•May 23, 2020 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Saya telah menyusun semacam memoar Ramadhan KLB (Kondisi Luar Biasa) tahun ini di kepalaku. Siap kutuangkan sebagai pengantar gambar Radhwa ang dibuatnya di awal Ramadhan. Namun, saya mendadak baper. Memoar itu lenyap, menguap kata-katanya. Berganti sebak. Berusaha menahan tangis yang tumpah.

Di awal Ramadhan, saya telah berjanji ke Radhwa “Esok aja di-posting ya! Ramadhan ‘kan masih lama”.

Begitu terus tiap hari. Hingga, tiba kini hari terakhir berpuasa. Betapa tak terasa waktu.

Saya tersentak menemukan kertas HVS ini mulai kucel di atas meja, tanda ia terabaikan selama 30 hari belakangan ini. Saya termangu beberapa detik membaca tulisan di pojok kanan atas dan kiri bawah. Tulisan itu yang menghentak, selama ini saya hanya fokus pada tulisan di tengahnya.

Bukankah sudah terlambat kini berucap “Ramadhan tiba” dan “Marhaban Ramadhan”? Betapa saya terlambat menyampaikan selamat datang dari Radhwa ini.

Kerana kini, kita harus berucap “Selamat berpisah, Ramadhan”. Ma’assalaamah. Tidakkah itu membuat kita sedih?

“Umi nangiskah? Makruh lho” Radhwa tiba-tiba menghampiri, menyelidiki bola mataku.

Saya hanya terdiam. Menggeleng menahan sebak. “Tulisan ini membuat sedih, Nak” kutunjuk tulisan tangannya di pojok kanan atas.

“Takpe…jangan nangis, tahun depan ‘kan ada lagi” ujarnya menghibur.

“Ramadhan pasti ada lagi tahun depan, kita-nya yang belum tentu masih ada tahun depan, Nak”.

Radhwa terdiam. Saya terdiam. Kami berpandangan, sama-sama menyadari sesuatu. Walau tak diungkapkan…

Ramadhan pergi
Ramadhan pergi, Nak….

(Semoga tahun depan, kita diberi kemurahan Allah SWT untuk bertemu lagi Ramadhan dalam kondisi yang lebih baik, sehat, dan jauh dari segala bencana. Aamiinn)

bukanfiksi

🥺🥺😣

Cerita di Balik Resensi Buku ‘Sia-sia Saja Air Matamu’

•May 15, 2020 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Setelah menulis novel, cerpen, puisi, pantun, esai, kali ini dia belajar menulis resensi dan review buku. Dia ketagihan menulis apa saja setelah tiga bukunya terbit, esainya dimuat di website, dan dua resensinya diganjar sijil penghargaan peringkat ASEAN.

Dia teruja, lalu semangat nulis lagi. Sekarang lagi nulis dua cerpen tentang corona (tetapi imaginasinya kejauhan 😣 sampe emaknya bingung mau kirim ke even menulis yang mana – yang ini akan saya ceritakan kemudian hari)

Khusus nulis resensi, prosesnya gini:

1) Kindoq-nya mencarikan tips menulis resensi dari internet (cari yang paling simple, screen shoot, kirim ke WA-nya);

2) Dia mengikuti polanya trus kirim ke kindoq;

3), Kindoq-nya komentari trus kembalikan ke dia;

4) Dia revisi sampai merasa cukup;

5) Kindoq na kirim ke media massa.

Terserah, dimuat atau nggak. Alhamdulillah dimuat, mungkin redakturnya melihat ada nilai “news” di balik resensi itu. Yaitu penulis meresensi bukunya sendiri dan dia masih kelas 6 SD. Soalnya, hari gini jarang-jarang anak kecil hobby membaca dan menulis (sampe perpustakaan sepi dan toko buku gulung tikar). Hal ini jadi kegelisahan tersendiri bagi saya yang bergerak di dunia pendidikan.

Keterampilan menulisnya datang dari hobby-nya membaca. Saya pun tak menyangka secepat ini potensinya itu keluar (malah awalnya saya pikir, passion-nya di catur).

Suatu ketika dia nanya,”Umi, mungkin kite lebih berbakat jadi penulis daripada jadi atlit ya? Kite tak pernah latihan seperti catur, tapi kite langsung bisa menulis ” – dia menyebut dirinya dengan “kite” (pengaruh logat Melayu).

Saya bilang, usia anak-anak memang hobby dan minat itu biasanya banyak. Jalani aja dulu, lakukan yang disuka. Mengalir aja, sepanjang semuanya positif dan memancing kreativitas.

Soal bakat menulis, mungkin dia ada benarnya. Tak ada kursus-kursusan, tak ada tutorial khusus. Dia belajar sendiri dari buku yang dia baca. Semuanya LEARNING BY DOING.

Tapi, dia nggak sadar bahwa sebenarnya dia pun telah berlatih menulis sejak bisa menulis. Lebih duluan daripada menulis notasi catur.

Latihannya melalui diari yang ditulisnya setiap hari, sejak Tabika. Kerana yang namanya skill itu nggak mungkin instant dan serta merta langsung jadi. Awalnya kacau balau, lambat laun tertata. Yang terpenting, pembaca ngerti maksudnya. Udah, itu aja dulu. Yang lainnya akan berkembang dengan sendirinya.

Btw, foto di atas adalah resensi ketiganya. Resensi 1 & 2 dikirim ke Malaysia, yang ketiga itu dimuat di harian lokal terkemuka Kaltim Post.

Nggak ada maksud apa-apa dari postingan ini ya, Buibu. Hanya ingin sharing pengalaman, kali aja bermanfaat bagi emak-emak lain. Semoga jadi pahala di bulan Ramadhan ini. Aamiinnn

Ph.D Mancing di Laut…

•May 12, 2020 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Gambar di bawah ini muncul di beranda FB-ku. Langsung teringat pengalaman pribadi saat dulu melaluinya. Lika liku sekolah di negeri orang tanpa beasiswa adalah perjalanan yang membawa banyak pelajaran seb8agai hikmahnya.

Hanya mau bilang, semua orang mempunyai prosesnya masing-masing.

Ada yang lempeng, tanpa kendala berarti.

Ada pula yang jungkir balik dan berdarah-darah sebelum tiba di garis finish.

Orang luar hanya melihat hasil akhirnya, tak melihat prosesnya.
Udah gitu, dicibir pula. Diremehin di muka umum.
Kurruuuu sumanga’ 😅

Justru saat bertemu banyak orang bertitel tinggi, kita akan menyadari bahawa itu bukan jaminan seseorang itu bisa jadi panutan. Bahkan, gelar Guru Besar bukan jaminan memiliki jiwa besar.

ADAB DULU BARU ILMU 😇

Btw, apa hubungannya dengan judul postingan ini?

Nggak ada 😁

Cuma ngutip komentar kawan baik yang (mungkin) hobby-nya mancing di laut.

Kalau saya sih hobby naik sepeda, trus nyemplung di laut 🤭

#beleng-beleng 😅

Sumber: entah

Menulis di Atas Batu…

•May 12, 2020 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Dulu, sejak Radhwa mulai bisa membaca di Tabika (TK), saya rajin belikan buku bacaan bergambar macam ini. Apalagi sejak kelas 1 SD, rutin saya belikan buku setiap bulan. Buku-buku ini kan tipis dan murah aja, jadi sering saya borong banyak-banyak. Saat dinas, isi koper saya cuma 2-3 potong baju. Pulangnya barulah koper penuh dengan buku bacaan aneka genre.

Apakah langsung dia baca? Tidak.

Kadang, buku itu nganggur sebab dia sedang asyik dengan mainan atau hobby lainnya. Tapi, tetap saja saya belikan lagi buku baru online dan saya susun saja di rak, terserah dia sentuh atau tidak.

Sekali lagi, TERSERAH DIA BACA ATAU TIDAK.
Serius.

Yang jelas, itu usaha saya sebagai orang tua untuk mendekatkan dan mengakrabkannya dengan buku.

Lambat laun, dia mengambil buku itu tanpa disuruh. Membolak-baliknya, entah dia paham atau tidak isinya. Seiring waktu, nyaris tiap hari dia pegang buku. Entah hanya tertarik gambar sampulnya, entah tertarik judulnya, entah jalan ceritanya. Stok buku itu ada di depan matanya.

Ibarat menyajikan aneka menu makanan di depan matanya, dia tinggal comot. Kerana banyak pilihan. Bosan yang satu, ambil yang satu lagi. Belum kelar satu, ganti satu lagi. Puas, stok banyak. Tinggal ambil sesuai selera atau mood hati.

Hasilnya?
Dia jadi kutu buku. Membaca di mana saja. Apalagi kalau ada koleksi baru, dia tenggelam dalam bacaan. Hening (aman sikit dunia 🙃)

Saat menulis, kosakatanya banyak. Alhamdulillah ya…

Sehingga, ketika menulis, jarang dia mandeg. Mengalir saja. Pernah dia tulis tangan 8 lembar 1 hari. Walaupun dia ngaku jari-jarinya penat (sampai kapalan), tapi dia merasa puas. Saat menyelesaikan satu tulisan, anak akan merasa bangga pada dirinya sendiri. Ternyata mereka mampu.


Dari mana kemampuan menulis diperoleh? Ya dari membaca. Kalau tidak membaca, apa yang mau ditulis? Begitu kata kunci Tuan Guru Syafruddin Pernyata.

Saya tidak sedang membanggakan putri saya, saya tak butuh pengakuan itu. Saya cuma mau bilang bahwa anak-anak itu sebenarnya justru mudah untuk diarahkan atau dikondisikan gemar membaca. Makanya sering heran pada orang tua yang pelit belikan buku murah untuk anak-anak, tapi royal belikan mainan/makanan/game/pulsa yang lebih mahal. Jadi sebenarnya, bukan anak-anak yang tak suka membaca, tapi ortu yang kurang memfasilitasi atau kurang mengarahkan.

Padahal, buku anak PAUD/TK/SD itu tipis aja, harga kadang cuma Rp 10.000,00 dapat 3 buah. Itupun ortu masih mikir-mikir untuk belikan. Mungkin kerana hasilnya tak langsung kelihatan, beda kalau dibelikan makanan.

Padahal, buku adalah nutrisi otak. Tak ada basinya pula! Dibaca hari ini, tersimpan sampai besar. Memori anak itu kuat. Ibarat menulis di atas batu.

Lha makanan? Dimakan hari ini, besok udah jadi eek!
Upss! 🤭🤭🤭

(Lho kok jadi ke situ ya…? 🙈)

Maaf. Tabeq 🙏

 
%d bloggers like this: