MENYUSURI WAKTU

•August 29, 2017 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Jika kau susuri waktu, di manakah rasa bermuasal?

Dari bangku kayu yang berderit
Atau,
Jendela kelas yang menghala ke hijau sawah belakang sekolah?

Ada wajah-wajah kecil lekat di ingatanmu
Serupa buah kersen di sela-sela daun
Yang kau lingkari sambil menghitung lingkaran tahun

Ada tangan-tangan degil yang selalu usil mengganggumu saat belajar

Yang mematahkan pensilmu dengan sengaja
Yang menyerobot teh panas dari termos kecilmU

Yang mengompori bolos beramai-ramai

Yang nyerocos jika bicara dan galak bertolak pinggang
Yang pendiam lugu tapi pintar ngeles saat giliran piket
Yang pemalu kikuk jika ditanya pak guruyg
Yang membaca komik saat rumus matematika dijelaskan
Yang larinya paling kencang walau pakai rok dan tanpa sepatu
Yang lompatannya paling tinggi saat main “yeyye”
Yang suaranya tinggi melengking saat nyanyi lagu ‘Tenggang Lopi’ dan ‘Potong bebek angsa’
Yang malas kerja PR dan suka nebeng teman sebangku
Yang suka “pote-pote” dan mengintip cermin dalam laci
Hingga yang membuat guru menangis lalu pindah sekolah

Ahai, betapa nakalnya
Sungguh polos dan lucu untuk dikenang
Semakin kau susuri, semakin waktu mengembang

Dan, di sini kita sekarang
Mengenang wali kelas yang killer namun baik hati
Mengingat-ingat ‘Pembukaan UUD 45′ yang dulu dihafal di luar kepala
Saling mengolok  uban yang mulai tumbuh dan kerut wajah di pinggir mata
Kadang kau lupa sesuatu,
Lalu ditimpali “toami Ramang!”
Dan kita pun terkekeh menahan suara
…..
…..
……

(Puisi kullu-kullu. Tak tauka’ selesaikan i. Begitu mo saja deh!😂)

(Banten, 29/08/18)
#lagi di kampung orang, mengingat kampung halaman
#ditulis sambil cakkekeq-kekeq
#untuk angkatan ’90 SD O66 Polewali

Advertisements

PULANG (2): BERIBU JARAK

•August 11, 2017 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Jika aku pulang, Ibu
Berapakah jarak tempuh untuk tiba di hatimu?

Kan kubawa gulungan lontaraq yang menisbatkan beragam kisah purba

Tentang cemasmu saat kuberendam di derasnya Sungai Pokko

Hingga amarahmu jika aku jauh bersepeda di siang terik sampai ke Takatidung

Tentang durian Kanang yang kucuri-curi makan sampai memabukkan

Hingga meriang selepas mandi hujan memutari Pekkabata

Tentang cubitanmu saat kukejar layangan dan berkelahi dengan kanak lelaki

Hingga  panggilanmu saat kucabuti kembang dan mengejar “buliliq” di Lapangan Pancasila

Aduhai, Ibu
Rentang masa terlampaui ingatan
Yang tlah kulupa, kini ditusuk badik bertubi-tubi
Terluka waktu, dihempas sana sini
Kenangan ditanam, mencari akarnya

Aduhai,  Ibu
Jauh sungguh kini kakiku  melangkah
“Lappung” di tanah-tanah rantau
Berkantong-kantong ingatan menetes di jalan
Basah dihajar panas
Kering dipunguti satu-persatu
Kosong kini, menagih diisi

Dan kutahu rindumu memuai di malam panjang, Ibu
Semakin lama, semakin dalam
Menurunkan kelambu, seorang diri
Berangan sendiri:

Tentang suara yang tlah lama tenggelam
Oleh riuh rendahnya pesta

Tentang paras yang tlah lama pias
Dibalik bebayang suria

Tentang dekapan yang tlah lama lepas
Bersidekap enggan diraih

Semakin jauh aku pergi
Beribu batu meninggalkanmu 
Namun bukan aku yang kau nanti, Ibu

Dialah cinta pertamamu yang tumbuh dari rahim
Kesayanganmu dari masa lampau

Pusaka yang kau jaga dengan keramat
Kau rindu hingga ke relung-relung

Jika pulang adalah tanah lapang,
Masihkah perlu bertanya:

“Berapa jarak tempuh untuk tiba di hatimu, Ibu?”
(11/8/17)

#di atas pesawat
#OTW Polewali, belok ke Bali 😅
#ditulis sambil ingat letting sigenggeang😂

SURAT UNTUK KINDOQ (2): MERINDUMU

•July 31, 2017 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Ada yang merindumu, Kindoq
Dicarinya senyummu di antara desau angin laut
Ditunggunya rima sajakmu di tengah belantara kata
Dicumbunya suaramu di sela risik hujan

Tak jua hilang bayang dirimu, Kindoq
Padahal sempadan jauh ia lampaui
Berselindung di balik mayapada

Ada yang merindumu, Kindoq
Membayangkan teduh wajahmu dengan mata terpejam
Menatapmu dari jauh sambil mengeja puitik namamu
Memanggilmu tanpa sebutir katapun terdengar
Betapa jelas terlontar, namun tersapu waktu berlapis-lapis

Ada yang merindumu, Kindoq
Merahsiakannya dari alam
Mendustai merpati yang bertengger di tingkap kamarmu
Menyembunyikannya di balik rimbun beruq-beruq
Saat sang puspa luruh menjelang senja,  ia enggan dihalau kabus

Hingga malam, dibukanya rindu dari balik tabir
Berlembar kenangan ditutur

Digantungnya di sisi katil

Menarik napas dalam-dalam

Membuangnya dari sesak dada

Merindumu, Kindoq
Diam-diam semampunya

Jangan pula kau tanya mengapa
Pun

Hingga bila

(31/7/17)

BUAT KAMU YANG KIRIMI AKU BUNGA…

•January 28, 2017 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Saat ada yang memberiku duri, ada  yang datang memberiku kelopaknya.
Hingga sekarang saya tak tahu siapa pengirimnya. Serangkai bunga indah: pink, hijau, dan putih Crysant yang manis . Pilihan warna dan kemasannya sederhana, sangat pas. Tak nampak berlebihan, jauh dari murahan. Elegan.

Ini pertama kali saya menerima buket bunga semacam itu.  

Juga pertama kalinya menerima kiriman tanpa nama

“Dari siapa ini?”tanya staf magang yang menerima di kantor. Kurirnya tersenyum dan terkesan mau cepat-cepat kabur. Katanya udah dipesani pengirimnya untuk tidak memberi tahu nama. 

“Baca aja di kartu itu”ujarnya buru-buru sambil ngeloyor pergi. 

Mungkin, dia takut dideteksi. Tapi wajahnya memang asing. Saya tak mengenalnya…

Kartu ucapannya singkat saja. Kata “…love you, Mom” membuatku curiga…hmm, mungkin ini  dari mahasiswa. Kenapa tanpa nama?

“Oh… itu kan karena mahasiswa bimbingan Ibu tahu jika Ibu pasti menolak dapat hadiah-hadiah dari mahasiswa” sela staf magang yang lain. 

Jadi, ini mahasiswa bimbingan skripsi? “Suspect” mulai mengerucut.

Berceritalah dia…sebelum ini mereka sering ditraktir mahasiswa saya yang datang mencari saya, tanda tangan di skripsi. 

“Kok kalian tak cakap? Siapa namanya?”

“Kita tak tau orangnya, Bu. Dia tanya: kalian mau makan apa? Kita jawab aja pizza hut. Jadi, kita pun dibelikan pizza hut”jawabnya polos, ringan tanpa dosa. Bagi mahasiswa magang tanpa gaji, tawaran traktiran adalah oase di padang pasir  😅

Saya tak tahu sudah berapa lama “persekongkolan” mereka itu berlangsung. Saya baru saja tahu …lagi-lagi, saya orang yang terakhir tahu 😁

Baiklah, harus diakui kali ini saya tersanjung (walau mungkin bukan cuma saya yang menerimanya). Pertama, dikirimi bunga dengan kata cinta adalah hal romantis buat seorang emak-emak (dari misua pun tak pernah — anu andiang 😂). Tapi saya yakin pengirimnya adalah perempuan (betul?)

Kedua, prinsipku selama ini dihargai oleh mahasiswa untuk tidak ada pemberian-pemberian sepanjang mereka belum lulus. Bukan mereka yang saya khawatirkan, melainkan diri saya sendiri. Iman saya, bukannya kuat sangat, ia naik turun. Saklek dalam prinsip itu adalah cara untuk menutup celah-celah yang mungkin saja dimasukinya. Mengkondisikannya adalah usaha membentengi diri sendiri.

Ketiga, saya senang kerana pemberi misterius itu membuktikan keikhlasannya. Tanpa identitas, tanpa pamrih, memberi tanpa ingin diketahui — mungkin dia telah memaknai hikmah dari Rumi: pada tangan pemberi bunga, wanginya akan melekat di tangan 😇 😄

Maka, untuk kamu yang mengirim bunga kemarin…terima kasih ya. 

Saat harga diri tercalar, wangi yang kau kirim adalah penawarnya. 

Walau sembunyi-sembunyi. Walau kucing-kucingan 🙂

Semoga ikam baik-baik saja ya!

Sukses sebagai alumni, dan jangan lupa untuk mengisi TRACER STUDY
#EH?? 😂😂

Sebelum lupa berpatah balik…

•December 3, 2016 • Leave a Comment

​(Unis Sagena)
Hati nurani, tetaplah di situ dan ingatkan  selalu
Jika sesekali kulalaikan dirimu, maka tamparlah pipiku!
Hingga merah

Tampar lagi, walau darah di bibirku

Tampar terus, hingga aku terhenyak
 Jika mulai kuabaikan suaramu, maka memekiklah! 
Teriaklah sekencang mungkin, bertalu-talulah!

Meski itu cuma untuk secuil kembang gula yang bukan milikku atau sebutir nasi yang kuambil dari pinggan orang lain
Wahai hati, mengeraslah untuk segala perhiasan dunia

Yang takkan kubawa mati, sesilau apapun itu
Wahai jiwa, melembutlah untuk ukhrawiku Menelan ibrah dan nasehat 
Sebelum semua terlambat

Sebelum terlampau jauh mencari

Hingga lupa berpatah balik

Lupa melutut dengan kerelaan
#selftalk

#usagena

LEBAM YANG DIAM 

•November 26, 2016 • 3 Comments

​(hanya “melepas batuk di tangga”)

Tabayyun, konfirmasi, atau check and recheck sudah lama diabaikan orang

Begitu saja percaya. Begitu saja menelan. Melupakan bagian-bagian yang baik, berpegang pada bagian-bagian yang buruk. Seolah tak satu pun kebaikan pernah terbagi. 

Padahal, kurun masa terbentang jauh. Padahal, pundak dan ingatan pernah diberi. Betapa mudah kita melupa.

Lalu fitnah menyebar. Menebar serupa virus. Menciderai banyak hati, lebam dalam diam. 

Bukan satu, tetapi dua. Tetapi tiga. Tetapi lama. Tetapi dalam.

Aduhai, adilnya manusia. Zalimnya saudara. Angkuhnya dagu yang terangkat. Menganiaya tanpa disadari.

Jika benar segala kisah, mengapalah lidah menepikan hati?
#repost tulisan Ramadhan 2016

ILMU TANPA IJAZAH

•November 17, 2016 • Leave a Comment

​Unis Sagena)

Nak, bersekolahlah bukan demi ijazah atau gelar, tapi demi ilmunya. 

Jika hanya selembar ijazah, semua orang bisa membuatnya sendiri. Apa yang tak bisa dipalsukan saat ini?

Jika hanya demi gelar, semua bisa memasangnya sendiri. Apa yang tak bisa dibeli saat ini?

Namun ilmunya, tak bisa dipalsukan, tak bisa dibeli. 
Ilmu yang didapat bisa saja sama, yang membedakan adalah:
pada siapa kau belajar

dengan adab bagaimana

dengan cara apa dan tujuan bagaimana

Bukan hanya harta dan jabatan yang akan dipertanggungjawabkan, namun ilmu juga akan dihisab.
So, maafkan kindoq-mu yang tak mendampingimu kerja PR atau saat ulangan sekolah. Santai aja jika kamu tak ranking 1 di kelas atau tanpa angka 100 di ulangan dan raportmu.
 Sepanjang kamu masih gemar membaca komik, majalah-majalahmu,hingga buku politik milik emakmu, lalu menulis acak di mana saja – bagiku, itu sudah lebih dari cukup. 

Ilmu akan kau dapatkan dari membaca dan menulisnya, kendati tanpa diganjar ijazah atau piagam penghargaan. So, jangan sibuk kejar angka cantik di raportmu ya
 
Nak, nabilang orang fesbuk: dunia ji ini, cika’! 😄

#TADIKA PERPADUAN 

#Taman Kajang Utama, Selangor Darul Ehsan

#repost FB

 
%d bloggers like this: