MENUNTASKAN RINDU (UNTUK AS)

•July 9, 2016 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Ada yang tak bisa digantikan dengan sms atau suara di telepon

Yaitu pelukan, cipika-cipiki, kehangatan, dan perasaan dekat yang memenuhi rongga dada

Padahal ini adalah pertemuan yang pertama dengan Kanda Arniyati Saleh (dan Kanda Ellyana Said). Kopi darat yang tak terencana jadi pertemuan perdana di dunia nyata.

Tapi pertemanan baik di dunia maya selama bertahun-tahun, membuatku serasa telah mengenalnya berabad yang lalu (ahayy…lebay!)

Bagi kindoq Arni (panggilan akrab kami di grup penulis), saya adalah tetangga kecilnya di kompleks pemda yang sering dilihatnya saat saya masih “kollongang” dan sering digendong-gendong (begitu kata Kak Bair, Kak Rapiuddin dll, murid-murid ibu di smansa yang pernah menyaksikan masa kecilku). Tentu saja, saya sudah lupa. Jadi, bagiku, semalam adalah kopi darat pertama dengannya setelah berkenalan di dunia maya.

Buku yang pernah kami terbitkan bersama adalah pengikat hati yang membuat Kindoq Arni memelukku erat-erat. Berulang-ulang kali. Aku pun memeluknya seperti kakakku sendiri yang sudah lama hilang. Seperti kakak yang pulang ke rumah, di rumah masa kecilku yang desain interiornya belum berubah sama sekali.

Kerinduan yang tertahan selama ini seperti dituntaskan oleh sebuah pertemuan. Saya berterima kasih pada kandiq malolo, Alvi Yanita, yang mengajak bertemu.  Ajakan yang mendadak di antara waktu yang serba mepet. Tapi, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Saya tak ingin rugi 2x (selepas gagal bertemu kindoq Hira yang juga mudik ke Somba dan kembali ke Makassar tanpa sempat kopi darat).

Maka, semalam, kuterobos malam gelap yang minim lampu jalanan dan hujan yang turun tiba-tiba.  Sendirian melewati jembatan Mapilli yang angker dan jalan poros Botto/Rappogading yang selama Ramadhan banyak insiden kecelakaan. Bangkai buruk pete-pete yang tabrakan dengan truk depan pertamina membuatku agak ketar-ketir. Lampu jauh kendaraan dari arah berlawanan sangat menyilaukan, membuatku menggerutu berkali-kali. Tapi, kandiq Alvi tak sabaran menungguku di Lampa dan wajah Kindoq Arni terbayang-bayang.

Semuanya terbayar, kemudian.
Keharuan membuncah, pelukan bertubi-tubi.  Kalau tak dipaksakan bertemu, saya ragu kami dapat bersilaturahim di momen lebaran di kampung halaman. Momen seperti ini langka bagi kami para perantau. Bersyukur bisa bertemu kak Chairul, Kak Askar di kediaman kak Sri Musdikawati.

Saya yang mulai merantau sejak tamat SD (hingga sekarang), adalah anak bungsu yang paling duluan dan paling jauh perginya. Mungkin kerana itu, saya selalu rindu kampung. Masa kecil yang manis-pahit-asam itu serasa memanggil. Dengan sahabat-sahabat masa kecil, yang walau wajah dan fisiknya banyak berubah, tapi suara dan nakal-nakalnya tetap sama.  Kalau berjumpa, pasti “baku calla” dan terbahak-bahak tanpa jaim (yang kumaksud ni kamu, Anti dan Sasa – teman SD yang dulu suka “lappung” bersama di sungai Pokko dan Kanang).

***
Banyak kisah yang hanya bisa dikenang, tak mungkin diulang.

Banyak cerita yang semakin diulang, semakin merindukan

Ada pertemuan yang cukup sekali, tapi sungguh berkesan

Ada pertemuan yang berkali-kali, serasa tak pernah cukup

Ada pertemuan yang tak pernah menjadi, kelak akan minta ditagih

Kerana, tak semua bisa diwakilkan oleh sms, telepon, atau status mellow di dunia maya.

Kerana, silaturahim dan kebersamaan tak selalu bisa digantikan oleh alat elektronik

Pulanglah, selagi bisa
Pulanglah, selagi masih ada yang menunggumu
Dan,
Pulanglah, selagi masih punya kampung halaman (kata Cak Lontong :p )

#Idul Fitri 1437 H
#Tanah Mandar
#Catatan untuk semua kawan di Sulselbar

image

(Makan kasippi’ dan putu bue)
image

KUPINTA MALAM DIGANDAKAN

•June 15, 2016 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Puisi ini saya tulis saat bulan Ramadhan, beberapa tahun yang lalu (lupa persisnya).

Yang saya ingat, saya bersungguh-sungguh mendoakan bangsaku menjadi lebih baik. Akumulasi persoalan terus bertambah. Setiap tahun bukannya berkurang tapi malah makin menakutkan. Darurat ini dan itu…😦

Ramadhan kali ini, kembali kupanjatkan doa-doa panjang. Agar pewaris negeri dapat hidup tenteram di negeri yang bak surgawi di bumi ini.

Postingan puisi soundcloud di blog ini saya dedikasikan buat kawan-kawan GEBRAK (Gerakan Bersama Perlindungan Anak) yang esok akan FGD, deklarasi pernyataan sikap, dan konferensi pers untuk memerahi kejahatan seksual anak, khususnya di Kalimantan Timur.

Mereka yang bergerak bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak bangsa yang lebih baik. Mereka rela berkorban waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi. 

(Salute: Uni Erni, Adji Wida, Yulia W.Ningrum, Tri Wahyuni, Erna Wati Aziz, Ragil, dan volunteer lainnya yang bekerja tanpa pamrih)

Thanks to kandiq Irwan Syamsir yang meramu puisi itu jadi apik di telinga🙂

Bukan Sapardi

•June 14, 2016 • 1 Comment

(Unis Sagena)

Ini bulan Juni…

Ramai orang menulis tentang hujan. Mengutip Sapardi Djoko Damono atau merangkai sajak di jendela kaca yang berembun.

Tapi aku tidak
Aku menunggu Rumi
Jaraknya yang beribu batu dan waktu, kian asing dalam suara

Tapi Rumi, bukan Sapardi
Yang mengirim puisi di senja taman
Enggan pergi, hanya menitip angin
Yang tiba-tiba mendesau
Lalu beringsut di pojok masa

Berapa lama kau akan di situ?

***
#lagidemam
#hujanmenggiladiluarsana

DETAK JANTUNGKU…

•May 26, 2016 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Kamu tahu “baper”, Sayang?
Itu istilah alay anak muda sekarang,   menggambarkan suasana hati yang terbawa-bawa perasaan terkait kondisi tertentu.

Nah, pagi ini, aku baper. Norak, sungguh… :p
Beberapa mahasiswa yang ngumpul depan balairung ini mungkin melihatku berjalan sambil baca hp dengan mata berkaca-kaca setengah nangis, sekaligus senyum-senyum bahagia.

Betapa tidak, aku foto membaca suratmu yang dikirim ayahmu via WA. Rupanya, kamu membalas suratku yang kutulis saat meninggalkan kalian kemarin.

Suratku itu berisi pesan bahwa walaupun aku tak bisa mendampingimu belajar di minggu ulangan kenaikan kelasmu ini, tapi kamu harus belajar bertanggung jawab untuk urusan sekolahmu sendiri. Bahwa belajar bukan kerana disuruh cikgu di sekolah atau kerana disuruh orang tua. Belajar bukan kerana esok ulangan atau mau naik ranking. Tetapi, belajarlah atas kesadaranmu sendiri, atas kemauanmu sendiri.

Hingga kelak kamu mengerti, Nak, jika ingin meraih sesuatu, kamu harus BERUSAHA SENDIRI dan menyadari apa pentingnya perkara tersebut untuk kau perjuangkan.

Jika kamu ingin ranking tinggi di kelas, maka usahamu harus sebanding. Belajar sungguh-sungguh bukan kerana paksaan dari luar, tapi dorongan dari dalam dirimu sendiri. Itu yang disebut dengan MOTIVASI.

Tapi ingat, Sayang…
Belajarlah bukan demi ranking atau hasil tertinggi tiap kamu ulangan. Jangan…

Ada filosofi dari tujuan belajar itu sendiri, yang bukan sekedar prestasi akademik dan angka-angka super di raportmu.  Kami orang tuamu, tak mengejar bilangan-bilangan itu bagimu. Ini sekaligus menjawab keherananmu, mengapa ayah dan umimu selalu mengembalikan formulir kosong tawaran bimbel dari sekolahmu. Kami menolak kamu ikut bimbel atau les-les mata pelajaran. Kami pikir, itu belum perlu🙂

Di usiamu ini, banyak pelajaran di luar sana yang lebih perlu kau terokai. Termasuk di buku-buku komik kesukaanmu. Yang penting kamu banyak membaca yang bukan sekedar membaca, melainkan: memahami-menghayati-mengamalkan.

Aku pun heran, kerana isi suratmu bukan tentang bagaimana ulanganmu di sekolah. Melainkan, kata-kata cinta yang memabukkan emakmu😀

Kuharap, isi suratmu pagi ini juga merupakan hasil pemahamanmu. Yang pasti, sangat kuhayati hingga mata menjadi sebak. Terutama saat kau ungkapkan kata “…detak jantungku…”

Entah, darimana kau dapatkan frase itu, Nak?
:D:D

Salemba UI, 26-5-201

image

DETAK JANTUNGKU…

•May 26, 2016 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Kamu tahu “baper”, Sayang?
Itu istilah alay anak muda sekarang,   menggambarkan suasana hati yang terbawa-bawa perasaan terkait kondisi tertentu.

Nah, pagi ini, aku baper. Norak, sungguh…
Beberapa mahasiswa yang ngumpul depan balairung ini mungkin melihatku berjalan sambil baca hp dengan mata berkaca-kaca setengah nangis, sekaligus senyum-senyum bahagia.

Betapa tidak, aku foto membaca suratmu yang dikirim ayahmu via WA. Rupanya, kamu membalas suratku yang kutulis saat meninggalkan kalian kemarin.

Suratku itu berisi pesan bahwa walaupun aku tak bisa mendampingimu belajar di minggu ulangan kenaikan kelasmu ini, tapi kamu harus belajar bertanggung jawab untuk urusan sekolahmu sendiri. Bahwa belajar bukan kerana disuruh cikgu di sekolah atau kerana disuruh orang tua. Belajar bukan kerana esok ulangan atau mau naik ranking. Tetapi, belajarlah atas kesadaranmu sendiri, atas kemauanmu sendiri.

Hingga kelak kamu mengerti, Nak, jika ingin meraih sesuatu, kamu harus BERUSAHA SENDIRI dan menyadari apa pentingnya perkara tersebut untuk kau perjuangkan.

Jika kamu ingin ranking tinggi di kelas, maka usahamu harus sebanding. Belajar sungguh-sungguh bukan kerana paksaan dari luar, tapi dorongan dari dalam dirimu sendiri. Itu yang disebut dengan MOTIVASI.

Tapi ingat, Sayang…
Belajarlah bukan demi ranking atau hasil tertinggi tiap kamu ulangan. Jangan…

Ada filosofi dari tujuan belajar itu sendiri, yang bukan sekedar prestasi akademik dan angka-angka super di raportmu.  Kami orang tuamu, tak mengejar bilangan-bilangan itu bagimu. Ini sekaligus menjawab keherananmu, mengapa ayah dan umimu selalu mengembalikan formulir kosong tawaran bimbel dari sekolahmu. Kami menolak kamu ikut bimbel atau les-les mata pelajaran. Kami pikir, itu belum perlu🙂

Di usiamu ini, banyak pelajaran di luar sana yang lebih perlu kau terokai. Termasuk di buku-buku komik kesukaanmu. Yang penting kamu banyak membaca yang bukan sekedar membaca, melainkan: memahami-menghayati-mengamalkan.

Kuharap, isi suratmu pagi ini juga merupakan hasil pemahamanmu. Yang pasti, sangat kuhayati hingga mata menjadi sebak. Terutama saat kau ungkapkan kata “…detak jantungku…”

Entah, darimana kau dapatkan frase itu, Nak?
^_^ ^_^

Salemba UI, 26-5-201

image

BUKU OPINI MAHASISWA

•May 3, 2016 • 2 Comments

(Unis Sagena)

Akhirnya, buku ini terbit juga…

Setelah lumayan lama antri di percetakan, hari ini tiba di Kota Tepian, Samarinda.

Sebuah buku kumpulan opini dari beberapa mahasiswa Universitas Mulawarman (lintas fakultas) tentang isu yang pernah jadi trending topic bulan Februari-Maret lalu.

Isu itu telah reda kini…

Semata, kerana media massa berhenti memberitakannya. Media sosial pun telah sepi membincangkannya. Berganti isu-isu baru. Bersilih ganti topik-topik hangat lainnya.

Sudah selesaikah masalahnya?
Basikah isunya?

Tidak.

Wacana dan perdebatan tentang isu tersebut masih berlanjut. Gerakannya tak berhenti. Mungkin, di luar sana, penggiatnya semakin bertambah. Simpatisannya semakin banyak. Korbannya juga berjatuhan.

Maka, buku ini hadir dengan sebuah misi yang luhur.

Saya tahu banyak yang mencibir klu sudah ada yang sok alim-sok sholeh begitu. Kerana, saling menasehati dan mengingatkan semakin luntur di tengah kultur hidup yang kian individualis, materialistis, dan pragmatis ini.

Sebagai editor dan “publisher” buku ini, saya pun menanggung resiko di-nyinyir-i. Termasuk, semakin mempertegas perbedaan (pikiran) dengan kolega dan kawan-kawan yang berseberangan.

Sebagai seorang ibu, saya hanya semakin didera kegelisahan. Sudah terlampau banyak ibu dan ayah lain di luar sana yang melakukan pembiaran dengan sikap permisif bahkan menyokong secara terbuka – maka, saya memilih menyuarakan kegelisahan itu. Bersama para mahasiswa – yang alhamdulillah juga super gelisah – lahirlah buku ini. Dipelopori mahasiswa-mahasiswa FISIP Universitas Mulawarman, Samarinda, Kaltim. Ditunjang penulis tamu dari Yogyakarta, Jakarta, Kuala Lumpur, dan suplemen artikel dari para cendikiawan dan praktisi kedokteran serta psikologi yang mengkaji dengan berbagai perspektif.

Secara khusus, saya ingin berterima kasih kepada semua yang memberi endorsment, penulis tamu & suplemen artikel.

Untuk mahasiswa/i penulis opini, penerbitan buku ini saya dedikasikan buat kalian…

image

Dia Mengeja Putriku…

•March 31, 2016 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Sekitar seminggu yang lalu, tanpa sengaja saya menemukan diari Radhwa di laptop kerjaku. Tulisan itu dia ketik sendiri. Kata-kata dan kalimatnya murni dari dia sendiri,  sama sekali tanpa campur tangan emaknya. 

image

Kerana suprise, saya foto dan posting di FB. Banyak yang berkomentar, baik tentang Radhwa-nya pun tentang kontennya.  Salah satunya Kak Armin. Seorang senior IAPIM dan sudah dianggap anak oleh ibuku.

Sepertinya, Kak Armin baru tahu soal Radhwa. Lalu, beberapa hari kemudian muncullah tulisannya di media sosial. Saya tak menyangka isinya tentang Radhwa, sebab memang sebagai penulis produktif, Kak Armin sering mengangkat hal-hal sederhana di sekitarnya menjadi topik menarik dalam esai-esainya.

Tentu saja saya jadi ge er dan tersanjung. Dia yang aktivis dan politisi beken di seberang sana mengangkat Radhwa dalam tulisannya. Ketika Radhwa pun membacanya, dia senyam senyum malu lalu bertanya penasaran, “macam mane dia tau kite, Umi? Kite kenal die ke?” ^_^

(Bagaimana dia tau saya? Saya kenal dia kah?)

Ah, sebelum kepanjangan karena  emaknya kesenangan (namanya juga buibu :p ), tulisan itu saya posting di bawah ini sebagai kenangan.

#thanks, Kak Armin!

*******

HARMONI: Win-Win Solution

(Armin Mustamin Toputiri)   

Barusan saja, saya mengeja selembar “catatan harian”, ditulis seorang kanak-kanak berusia 7 tahun. Kini duduk di bangku kelas 2 SD. Anak perempuan itu, anak dari adik kelas sewaktu SMP. Saya nyaris tak percaya, putrinya yang baru berusia 7 tahun, mampu menulis selembar catatan harian. Membuat saya percaya, tak lain karena ibu anak itu seorang dosen yang juga sejak usia muda gemar menulis. Neneknya, pun seorang mantan kepala sekolah SMA tempo dulu. Seorang single parent yang gigih mendidik kelima anaknya, hingga bergelar sarjana.

Agar tak penasaran, saya mengutip secara utuh, catatan harian si anak bernama Radhwa itu. “Waktu itu saya pergi kejunas, saya ikut lomba catur di sana. Sewaktu bermain catur, saya menang di babak pertama. Tetapi waktu babak dua saya kalah, tetapi saya tetap berusaha memenangkan babak ketiga. Saya akan konsenterasi di papan catur supaya menang. Eh, taunya saya menang di babak ketiga. Waktu babak keempat saya kalah, tapi tidak nangis atau cengeng. Waktu babak keenam saya kalah dan agak manja tetapi saya tidak nangis.

Waktu babak ketujuh saya menang, karena waktu saya main catur saya salah langkah, saya tidak tahu kalau saya salah langkah, tapi untung lawanku juga tidak melihat salah langkah. Waktu babak delapan saya hampir menang, tapi saya maafkan lawan saya, padahal saya satu langkah sudah pasti lawan saya kalah. Dan saat itu lawanku meminta draw, saya mau. Tetapi bilang wasitnya aku bisa unggul, itulah salahku memaafkan dan mau main draw. Aku tetap berusaha bermain catur kalau ada lomba. Da da teman-teman sampai jumpa lagi”.

Catatan harian, 26 November 2015 ini, ditulis Radhwa berdasar rekam jejaknya, mengikuti Kejuaraan Nasional Catur, di Jakarta. Meski dia anak perempuan, tapi kegemarannya sejak kecil, bermain dengan bidak-bidak catur. Hingga 7 tahun di usianya kini, Radhwa menjuarai Kejuaraan Daerah Catur (kanak-kanak) se-Kalimantan Timur. Atas prestasinya itu, ia berhak mengantongi tiket, untuk diterbangkan ke Jakarta. Menjadi duta kebanggaan daerahnya, di level nasional. Meski pulang dengan predikat rangking 5 nasional, tapi tak patah semangat.

Dalam catatan harian ini, Radhwa mengaku tak nangis dan cengeng. Malah ia membangun tekad, akan terus bermain catur. Jika ada lomba catur, Radhwa akan ikut lagi. Radhwa sadar, hanya dengan cara berkonsentrasi menghadapi papan catur, beserta gerak-gerik bidaknya dan bidak catur lawannya, ia akan bisa memenangi babak demi babak. Nyaris sama, pernah disampaikan oleh Pal Benko, grandmaster catur Amerika Serikat, “in the endgame, the most common errors, besides those resulting from ignorance of theory, are caused by impatience”

Andai babak sebelumnya ia kalah, maka babak berikutnya ia berdaya upaya menang. Itulah tekad seorang kanak-kanak yang jujur menerima kekalahan. Dan sebab kejujurannya itulah, saya tergelitik mengeja catatan harian ini. Jujur tapi lugu. Betapa jujur ia mengakui menang di babak ketujuh, akibat salah langkah yang tak dilihat lawannya. Betapa lugu ia, menerima berakhir draw, meski peluang menang ada di pihaknya. Radhwa sepertinya, mau “Win-Win Solution”. Menang tanpa mengalahkan. “Win-Lose”. Mau disebut juara, bukan pemenang.

Makassar, 31 Maret 2016

image

image

#sumber tulisan: http://rakyatku.com/2016/03/31/opini/win-win-solution.html

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,726 other followers

%d bloggers like this: