Pak Gubernur, mengertilah maunya Radhwa…

•September 29, 2016 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Bulan ini Bulan Bahasa. Kantor Bahasa melaksanakan berbagai lomba membaca dan menulis untuk pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum se-Kaltim dan Kaltara. Dari sekian banyak lomba, saya menawarkan Radhwa ikut memeriahkan dengan mendaftar lomba baca puisi.

“Kalau puisi, kite naik panggung ke? Masuk TV ke…macam Umi hari tu?”tanyanya beberapa hari lalu. 

“Yang ini tak masuk TV dan bisa juga di bawah panggung” jawabku

“Trus, orang liat-liati kite?”tanyanya agak menyelidik

“Iya, Sayang…kan ada juri dan peserta lain…”

“Tak nakkk!!!”dia menggeleng kencang-kencang

lho, kenapa?

“Kite malu!”jawabnya sambil tutup wajah pake tangan

*****

Saya pun meringis lagi. Hingga hari ini belum berhasil menghilangkan malunya itu. Padahal, dia punya modal suara yang cukup keras dan lantang – beda sangat dengan suara kindoq-nya yang cempreng 😂

Lalu, kutawarkan lomba menulis surat untuk pejabat. Kebetulan ada yang untuk murid SD. 

“Kalau menulis kite diliat-liat orang?”tanyanya lagi

“Tak. Tak ada yg saling liat, semua peserta sibuk menulis juga. Macam klu tanding catur itu. Ada hadiah uangnya lho..”pancingku

“Berapa hadiahnya?”

“Juara 1 dapat Rp 1,5 jt”

“Nak!!”sambarnya cepat. Berangan-anganlah dia: mau beli ini-itu, main2an yang lama diincarnya

(matre’ juga anakku nih 😅)

Saya tekankan, ini pengalaman pertamanya lomba menulis jadi kalau kalah tak apa ya….

“Tak nak! Kite nak juara 1, nak beli kasir-kasiran dan slime!”

Tak ingin mematahkan semangatnya, saya diamkan aja ambisinya itu.  Bagi saya, dia mau ikut aja udah bagus. Rupanya, dia lebih suka lomba yang dia “tak perlu diliati” orang 😆

*****

Singkat cerita, saya mendaftarkannya pada panitia. Harusnya dia belum boleh ikut sebab masih kelas 3, lomba itu khusus kelas 5-6. Tapi, panitia menerima sebab kuota pendaftarnya masih sangat kurang. Dia menjadi peserta termuda.

Maka, latihanlah dia menulis panjang-panjang. Semacam konsep sesuai tema. Saya hanya memberi clue  soal  problem Bahasa Indonesia saat ini dan memintanya menulis dengan bahasa dan gayanya sendiri. Beberapa kali saya usulkan kata pengganti yang lebih tepat dengan maksud yang ingin dia utarakan di surat, tapi beberapa kali pula dia menolak, lalu merangkai kata versinya sendiri 😎
Kadang saya suprise juga, ternyata redaksinya cukup “masuk”. Terlihat manfaatnya dia gemar membaca buku dan komik, kosakatanya cukup memadai untuk menyampaikan maksudnya sendiri. Saya hanya membantunya soal titik-koma-huruf kapital. Selebihnya adalah kata-katanya sendiri. Ada kalimat yang dia meminta 01 Kaltim (Awang Faruq Ishak) dan anak buahnya memberi contoh kepada rakyat Kaltim agar Bahasa Indonesia bangkit lagi dan dihargai. 

Lalu, ditutup dengan kalimat: “Pak Gubernur, mengertilah apa maunya Radhwa” 😄😅


*****

Hasil lombanya?

Dia tak menang hehehe…

Kecewa? Iya, terlihat dari wajahnya. Saya hanya terus memotivasi dan mengingatkan slogan yang saya doktrinkan selama ini: 
JIKA MENANG, TAK SOMBONG. JIKA KALAH, TAK PUTUS ASA.

*****

“Ingatkan, Nak, kata-kata itu?”sambil mengelus-elus kepalanya menuju parkiran selepas bertanding. Dia mengangguk. “Coba ulangi?” pintaku.

“Jika menang, tak sombong. Jika kalah, tak putus asa” ujarnya.

Nah, gitu dong. Jadi, kalau ada lomba nulis lagi, kita ikut lagi ya?

TAK NAK!!!!  😵

 #gubrak!😁

(Kota Tepian, 27/9/16)

Dengan kakak-kakak kelas 6

Kakak kelas satu sekolah

Paling kecil😄

CATUR DAN  PEMBINAAN DAERAH 

•September 19, 2016 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

​Emas pertama dari kontingen Kaltim pada PON Jawa Barat yang masih berlangsung saat ini berasal dari cabor catur. Kiprah dan prestasi catur Kaltim selama ini memang cukup diperhitungkan dan sering menuai prestasi tingkat nasional. Itu pun dicapai dengan manajemen dan pembinaan atlit yang belum optimal lho… apatah lagi jika nanti manajemen dan pembinaannya betul-betul dikerjakan dengan lebih serius dan profesional, pasti prestasi atlitnya akan lebih kinclong lagi. Usaha pemerintah dan pengurus catur Kaltim sebenarnya sudah kelihatan dan ada hasilnya, namun rasanya masih kurang jika dibandingkan dengan ambisi dan target-target besar yang dituju. Proses pembinaan menuju itu semua yang lebih penting, sebab mencetak atlit berprestasi tak mungkin dengan instan dan sekonyong-konyong muncul begitu saja ☺

Sayang jika atlit-atlit terbaiknya berpindah ke pulau Jawa atau daerah lain hanya kerana masalah kesejahteraan pun mismanagement, sebab merekalah aset-aset daerah yang seyogyanya diperhatikan. 

Walaupun juga dimaklumi jika banyak atlit yang pindah demi pengembangan karir yang lebih menjanjikan di pulau Jawa. Tapi, jika managemen bagus, pembinaan atlitnya visioner, ditunjang good will pemerintah, maka daerah bisa menjadi lumbung pencetak atlit-atlit berprestasi tanpa harus meninggalkan daerahnya. Sebab, bakat dan kemampuan mungkin sama saja dengan atlit-atlit di Jawa, namun yang di daerah seringkali kalah dari segi pengalaman dan jam terbang karena minimnya turnamen.

Itu PR besar bagi pengurus dan pemerintah daerah agar bisa memperbanyak turnamen catur (dan cabor lainnya) di daerah sendiri untuk menempa bakat dan peluang tanding yang lebih besar (PR besar juga untuk menyiapkan bibit baru pecatur kanak-kanak sebagai regenerasi untuk meneruskan estafet prestasi itu). Tanpa turnamen, atlit (khususnya anak-anak) akan jemu jika hanya latihan saja. Sering ikut turnamen  (apatah lagi yang dilaksanakan secara profesional) adalah ajang mereka uji kemampuan, mengukur kekuatan, mengaplikasikan teori, mengasah mental, dan mempelajari keadaan. Kombinasi keseluruhannya adalah modal besar untuk mencetak atlit-atlit daerah yang mumpuni. Bukankah itu yang dilalui para (grand) master catur di luar sana? 

Kasihan atlit-atlit di daerah Kutim/Kubar, misalnya, yang hanya bertanding 1x dalam 1 tahun (kejurda), itu pun dengan swadana yang tidak sedikit. Padahal banyak yang berbakat besar namun kurang dipoles aja.Bagaimana kita bisa mencetak rising stars? 

Rasanya, ini problem bersama juga di provinsi-provinsi lain. Prestasi, event-event bergengsi dan prestisius, dan kesempatan-kesempatan besar masih didominasi di Jawa. Masih sentralistik. Sesekali perlu diadakan di ujung timur Indonesia: Manado, Papua, Maluku, NTB/NTT, Kalimantan – agar semua merasakan besarnya biaya yang harus dikeluarkan (tiket mahal kan 😅), terlebih jika terpaksa harus biaya pribadi 😮. Sekalian memperkaya wawasan nusantara toh? (baru ketahuan jomplangnya akses dan transportasinya :|)

Masalahnya, apakah daerah siap? 

Seringkali tidak😒

So, gimana dong?
Ya harus disiapkan!
Sekarang…

Sebelum rantai prestasinya terputus (hingga bergenerasi), sebelum atlit jadi lesu dan memilih “gantung sepatu” (pensiun dini) 😇

*******

#celotehan “rantasa” emak yang punya anak atlit dan teman2 atlit😄

#maafkan jika ada yang kurang berkenan, anggap aja aspirasi rakyat jelata 😇

#ditulis selepas mendengar dari beberapa pengalaman dan melihat keadaan-keadaan 🌺:)

NYANYIAN HUJAN (buku & literasi)

•September 17, 2016 • 1 Comment

(Unis Sagena)

Musim literasi tiba – walau literasi tak mengenal musim sebenarnya. Hanya eforianya yang membuat dunia literasi dibincangkan gencar lagi belakangan ini. Terutama dengan adanya pencanangan GIM (Gerakan Indonesia Membaca) yang disertai dengan berbagai kegiatan menarik untuk memancing minat membaca masyarakat Indonesia (yang ranking membacanya di Asia, apalagi dunia, terhitung paling bontot). Berbagai daerah dan lembaga melakukan aksi masing-masing: lomba menulis, lomba membaca, lomba resensi, bedah/diskusi buku, pameran taman bacaan, dan lainnya.

Salah satunya adalah yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Kota dan Pemerintah Kota Samarinda, kemarin di Samarinda Square. Saya pun menghadirinya dengan mengajak serombongan mahasiswa UNMUl. Selain untuk memberi support kepada sahabat saya, Tri Wahyuni Zuhri, penulis keren yang divonis kanker stadium lanjut (tentang ini saya tulis terpisah) – juga untuk membiasakan dan mengenalkan mahasiswa untuk aware soal literasi itu sendiri. 

Gaungnya memang agak sepi di kampus, nyaris tak ada gawean dan hingar bingar literasi (hanya seminar penulisan yang dilaksanakan FIB tempo hari). Padahal, sebelumnya sudah pernah terbit buku pertama kumpulan opini mahasiswa UNMUL yang berjudul ‘(Bukan) Cangkir yang Menganga’ – itu juga salah satu upaya untuk menstimulus gairah menulis mahasiswa.  Saya hanya wait and see, menunggu-nunggu gerakan dari mahasiswa sendiri, bersiap untuk Tut Wury Handayani (sesekali memprovokasi 😄). [Tentang buku tersebut, ada di postingan saya sebelumnya. Info/pemesanan di no.082351434599/082351376946].

Buku itu sempat mejeng di stand TBM Ladang dalam pameran GIM tempo hari. Di stand HIMPAUDI sebelahnya, juga terpajang buku lain yang saya bidani penerbitannya, buku cerita anak bergambar yang berjudul ‘Nyanyian Pemanggil Hujan’. Kedua buku ini terbit hampir bersamaan, namun berbeda genre dan target pembaca. Buku pertama bertema serius dan ilmiah, buku kedua adalah fiksi bertema kehidupan anak. 

Buku cerita anak ini adalah hasil workshop penulisan yang dilaksanakan oleh  DPPKT (Dewan Pendidikan Provinsi Kaltim). Hasil workshop lalu diseleksi. Bersama salah satu pengurus yang lain,  Ibu Syarifah Zuhairiah (motor HIMPAUDI Kaltim), kami menerbitkan buku tersebut di bawah payung DPPKT dan Yayasan Insan Hanif.  Konon, buku itu juga adalah buku kumpulan cerita anak  yang pertama yang ditulis bersama oleh bunda-bunda PAUD & TK.  Masih banyak kekurangannya, sebenarnya (sebagai koordinator penerbitannya, saya akui). Tapi, saya dengar-dengar buku itu banyak yang naksir dan bicarakan (info/pemesanan di no.0853912625200). 

Yang menggembirakan, bunda PAUD yang jaga stand tempo hari semangat memperkenalkan buku itu sebagai karya mereka. Berceritalah dia tentang buku itu. Menyenangkan melihat ekspresi  semacam itu saat bercerita tentang karya guru PAUD. Saya bilang bahwa saya  tahu sebab saya hadir juga saat workshop-nya. 

Dengan raut kurang percaya, beliau tanya,”Tapi, kok  saya tak kenal? Tak pernah liat wajahnya? Yang saya tau Bu Rahma aja (salah satu narasumber)”

Glek! 😅

 Dengan senyum kikuk sambil mesem-mesem, saya garuk-garuk kepala. Hikss…ibu itu pasti tak merhatiin wajah moderatornya plus nama editor di sampulnya 😥😭😭😁

#langsungkabur 😂;)

#untungjahilnyatakkumat😄:mrgreen:😁

MENUNTASKAN RINDU (untuk kindoq AS)

•July 9, 2016 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Ada yang tak bisa digantikan dengan sms atau suara di telepon

Yaitu pelukan, cipika-cipiki, kehangatan, dan perasaan dekat yang memenuhi rongga dada

Padahal ini adalah pertemuan yang pertama dengan Kanda Arniyati Saleh (dan Kanda Ellyana Said). Kopi darat yang tak terencana jadi pertemuan perdana di dunia nyata.

Tapi pertemanan baik di dunia maya selama bertahun-tahun, membuatku serasa telah mengenalnya berabad yang lalu (ahayy…lebay!)

Bagi kindoq Arni (panggilan akrab kami di grup penulis), saya adalah tetangga kecilnya di kompleks pemda yang sering dilihatnya saat saya masih “kollongang” dan sering digendong-gendong (begitu kata Kak Bair, Kak Rapiuddin dll, murid-murid ibu di smansa yang pernah menyaksikan masa kecilku). Tentu saja, saya sudah lupa. Jadi, bagiku, semalam adalah kopi darat pertama dengannya setelah berkenalan di dunia maya.

Buku yang pernah kami terbitkan bersama adalah pengikat hati yang membuat Kindoq Arni memelukku erat-erat. Berulang-ulang kali. Aku pun memeluknya seperti kakakku sendiri yang sudah lama hilang. Seperti kakak yang pulang ke rumah, di rumah masa kecilku yang desain interiornya belum berubah sama sekali.

Kerinduan yang tertahan selama ini seperti dituntaskan oleh sebuah pertemuan. Saya berterima kasih pada kandiq malolo, Alvi Yanita, yang mengajak bertemu.  Ajakan yang mendadak di antara waktu yang serba mepet. Tapi, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Saya tak ingin rugi 2x (selepas gagal bertemu kindoq Hira yang juga mudik ke Somba dan kembali ke Makassar tanpa sempat kopi darat).

Maka, semalam, kuterobos malam gelap yang minim lampu jalanan dan hujan yang turun tiba-tiba.  Sendirian melewati jembatan Mapilli yang angker dan jalan poros Botto/Rappogading yang selama Ramadhan banyak insiden kecelakaan. Bangkai buruk pete-pete yang tabrakan dengan truk depan pertamina membuatku agak ketar-ketir. Lampu jauh kendaraan dari arah berlawanan sangat menyilaukan, membuatku menggerutu berkali-kali. Tapi, kandiq Alvi tak sabaran menungguku di Lampa dan wajah Kindoq Arni terbayang-bayang.

Semuanya terbayar, kemudian.
Keharuan membuncah, pelukan bertubi-tubi.  Kalau tak dipaksakan bertemu, saya ragu kami dapat bersilaturahim di momen lebaran di kampung halaman. Momen seperti ini langka bagi kami para perantau. Bersyukur bisa bertemu kak Chairul, Kak Askar di kediaman kak Sri Musdikawati.

Saya yang mulai merantau sejak tamat SD (hingga sekarang), adalah anak bungsu yang paling duluan dan paling jauh perginya. Mungkin kerana itu, saya selalu rindu kampung. Masa kecil yang manis-pahit-asam itu serasa memanggil. Dengan sahabat-sahabat masa kecil, yang walau wajah dan fisiknya banyak berubah, tapi suara dan nakal-nakalnya tetap sama.  Kalau berjumpa, pasti “baku calla” dan terbahak-bahak tanpa jaim (yang kumaksud ni kamu, Anti dan Sasa – teman SD yang dulu suka “lappung” bersama di sungai Pokko dan Kanang).

***
Banyak kisah yang hanya bisa dikenang, tak mungkin diulang.

Banyak cerita yang semakin diulang, semakin merindukan

Ada pertemuan yang cukup sekali, tapi sungguh berkesan

Ada pertemuan yang berkali-kali, serasa tak pernah cukup

Ada pertemuan yang tak pernah menjadi, kelak akan minta ditagih

Kerana, tak semua bisa diwakilkan oleh sms, telepon, atau status mellow di dunia maya.

Kerana, silaturahim dan kebersamaan tak selalu bisa digantikan oleh alat elektronik

Pulanglah, selagi bisa
Pulanglah, selagi masih ada yang menunggumu
Dan,
Pulanglah, selagi masih punya kampung halaman (kata Cak Lontong :p )

#Idul Fitri 1437 H
#Tanah Mandar
#Catatan untuk semua kawan di Sulselbar

image

(Makan kasippi’ dan putu bue)

image

KUPINTA MALAM DIGANDAKAN

•June 15, 2016 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Puisi ini saya tulis saat bulan Ramadhan, beberapa tahun yang lalu (lupa persisnya).

Yang saya ingat, saya bersungguh-sungguh mendoakan bangsaku menjadi lebih baik. Akumulasi persoalan terus bertambah. Setiap tahun bukannya berkurang tapi malah makin menakutkan. Darurat ini dan itu…😦

Ramadhan kali ini, kembali kupanjatkan doa-doa panjang. Agar pewaris negeri dapat hidup tenteram di negeri yang bak surgawi di bumi ini.

Postingan puisi soundcloud di blog ini saya dedikasikan buat kawan-kawan GEBRAK (Gerakan Bersama Perlindungan Anak) yang esok akan FGD, deklarasi pernyataan sikap, dan konferensi pers untuk memerahi kejahatan seksual anak, khususnya di Kalimantan Timur.

Mereka yang bergerak bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak bangsa yang lebih baik. Mereka rela berkorban waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi. 

(Salute: Uni Erni, Adji Wida, Yulia W.Ningrum, Tri Wahyuni, Erna Wati Aziz, Ragil, dan volunteer lainnya yang bekerja tanpa pamrih)

Thanks to kandiq Irwan Syamsir yang meramu puisi itu jadi apik di telinga🙂

Bukan Sapardi

•June 14, 2016 • 1 Comment

(Unis Sagena)

Ini bulan Juni…

Ramai orang menulis tentang hujan. Mengutip Sapardi Djoko Damono atau merangkai sajak di jendela kaca yang berembun.

Tapi aku tidak
Aku menunggu Rumi
Jaraknya yang beribu batu dan waktu, kian asing dalam suara

Tapi Rumi, bukan Sapardi
Yang mengirim puisi di senja taman
Enggan pergi, hanya menitip angin
Yang tiba-tiba mendesau
Lalu beringsut di pojok masa

Berapa lama kau akan di situ?

***
#lagidemam
#hujanmenggiladiluarsana

DETAK JANTUNGKU…

•May 26, 2016 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Kamu tahu “baper”, Sayang?
Itu istilah alay anak muda sekarang,   menggambarkan suasana hati yang terbawa-bawa perasaan terkait kondisi tertentu.

Nah, pagi ini, aku baper. Norak, sungguh… :p
Beberapa mahasiswa yang ngumpul depan balairung ini mungkin melihatku berjalan sambil baca hp dengan mata berkaca-kaca setengah nangis, sekaligus senyum-senyum bahagia.

Betapa tidak, aku foto membaca suratmu yang dikirim ayahmu via WA. Rupanya, kamu membalas suratku yang kutulis saat meninggalkan kalian kemarin.

Suratku itu berisi pesan bahwa walaupun aku tak bisa mendampingimu belajar di minggu ulangan kenaikan kelasmu ini, tapi kamu harus belajar bertanggung jawab untuk urusan sekolahmu sendiri. Bahwa belajar bukan kerana disuruh cikgu di sekolah atau kerana disuruh orang tua. Belajar bukan kerana esok ulangan atau mau naik ranking. Tetapi, belajarlah atas kesadaranmu sendiri, atas kemauanmu sendiri.

Hingga kelak kamu mengerti, Nak, jika ingin meraih sesuatu, kamu harus BERUSAHA SENDIRI dan menyadari apa pentingnya perkara tersebut untuk kau perjuangkan.

Jika kamu ingin ranking tinggi di kelas, maka usahamu harus sebanding. Belajar sungguh-sungguh bukan kerana paksaan dari luar, tapi dorongan dari dalam dirimu sendiri. Itu yang disebut dengan MOTIVASI.

Tapi ingat, Sayang…
Belajarlah bukan demi ranking atau hasil tertinggi tiap kamu ulangan. Jangan…

Ada filosofi dari tujuan belajar itu sendiri, yang bukan sekedar prestasi akademik dan angka-angka super di raportmu.  Kami orang tuamu, tak mengejar bilangan-bilangan itu bagimu. Ini sekaligus menjawab keherananmu, mengapa ayah dan umimu selalu mengembalikan formulir kosong tawaran bimbel dari sekolahmu. Kami menolak kamu ikut bimbel atau les-les mata pelajaran. Kami pikir, itu belum perlu🙂

Di usiamu ini, banyak pelajaran di luar sana yang lebih perlu kau terokai. Termasuk di buku-buku komik kesukaanmu. Yang penting kamu banyak membaca yang bukan sekedar membaca, melainkan: memahami-menghayati-mengamalkan.

Aku pun heran, kerana isi suratmu bukan tentang bagaimana ulanganmu di sekolah. Melainkan, kata-kata cinta yang memabukkan emakmu😀

Kuharap, isi suratmu pagi ini juga merupakan hasil pemahamanmu. Yang pasti, sangat kuhayati hingga mata menjadi sebak. Terutama saat kau ungkapkan kata “…detak jantungku…”

Entah, darimana kau dapatkan frase itu, Nak?
:D:D

Salemba UI, 26-5-201

image

 
%d bloggers like this: