DICARI: LELAKI IDAMAN

•April 24, 2018 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Ada yang komentar gini di statusku (FB):

“Wajarlah kalau “An-Nisa ‘imad al-bilād”….wanita adalah tiang negara!
Coba saja kalau semua wanita muslimah kompak gak mau nikah kecuali dengan org saleh -minimal rajin shalat dan bisa jadi imam, kira2 apa gak mgkin semua laki2 berlomba2 jd org saleh rajin shalat n bs jd imam ?”

Bujur aee…

Sayangnya, cewek-cewek jarang berpikir begitu. Sekarang, lelaki idaman dilihat dari seberapa sukses dalam karir & pendidikannya, seberapa tajir dan mampu menghidupi, seberapa ganteng dan layak dibawa arisan dan kondangan, seberapa atletis dan sedap dipandang mata. Seberapa top di komunitas dan kritis status medsosnya. Yang seperti inilah yang pengagumnya paling banyak.

Tapiii…giliran didorong maju jadi imam sholat berjamaah, nolak. Diminta pimpin doa majlis, ogah. Diminta azan, kagok. Ditanya fardhu ‘ain, bingung. Diajak taklim, sibuk mulu.

Gimana wanita-wanita yang hijrah jadi tidak bingung? Mereka sungguh-sungguh ingin mencari imam dunia-akhirat, tapi yang available sangat sikit – kalaupun ada, eh sudah jadi bapak-bapak 😁.

Belum lagi jumlah lelaki di dunia ini memang lebih sedikit daripada perempuan. Tuh, bayi-bayi yang lahir saban hari mayoritas perempuan. Sekarang aja dah berat persaingan. Bayangkan kelak seperti apa 😯 (persaingan bukan saja sesama perempuan, tetapi juga dengan lelaki yang doyan lelaki, plus “perempuan” transgender 😣)

Aduhai lelaki sholeh, ayo dong keluar dari kepompongmu… jadilah imam dengan bacaan sholatmu yang syahdu. Skali-skali adzan, biar cewek-cewek juga pada tau bahwa tempat cari lelaki idaman tuh di masjid dan taklim2, bukan di mall atau tempat dugem dengan musik ajeb-ajeb 😅

Oya, untuk cewek-cewek, klu ada cowok keren yang meminangmu, tes dulu bacaan sholatnya.
trus, mintai uang panai’… upss 🙊🙊 😂

#status buru2
#ntar deh diedit 😁

Advertisements

Perempuan dan Panutannya (3)

•April 22, 2018 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Menurut pakar genetik dan psikolog yang sering melakukan tes IQ pada anak (salah satunya sahabat saya Yulia Wahyu Ningrum 😘), kecerdasan anak diwarisi dari ibunya.

Bayangkan, betapa banyak generasi emas Indonesia yang bisa terlahir dari rahim para perempuan cerdas dan terdidik?

Sayang seribu sayang, banyak perempuan cerdas yang lebih gandrung mengamalkan cara pikir dan gaya hidup ala-ala feminis radikal dan “bubuhannya” yang kadang sampai di titik ekstrim: apatis pada institusi pernikahan, tak butuh lelaki, menolak melahirkan, merdeka mengutak-atik tubuh, pro lesbianisme, sinis dan nyinyir pada jilbab & cadar yang dipandang simbol penjajahan pada kemerdekaannya.

Dengan jargon “My body, my right” dan kebebasan berekspresi, kalangan ini menolak segala intervensi pada tubuhnya, termasuk kewajiban (muslimah) menutup aurat, juga hamil dan menyusui yang dianggap bisa merusak keindahan tubuh dan mengekang kebebasannya, bahkan kepuasan sejenis bisa diraih tanpa lelaki. Makanya sekarang lesbianisme makin marak bahkan dikampanyekan.

Belum tau dia, betapa nikmatnya merasakan perut ditendang2 kaki mungil dari dalam. Betapa harunya melahirkan zurriat dari rahim sendiri. Betapa tak terlukiskannya kepuasan mengajari kata dan huruf pertamanya. Betapa bergetar hati mendengar tangisnya saat ditinggal sebentar saja. Ibunya adalah dunianya. Bagi ibu yang menghayati ini pula, mampu menukarkan segala dunia demi merasakan semua itu.

Memang, banyak yang belum sempat menjadi ibu dan istri kerana belum rezekinya, walau tlah berusaha. Qodarullah….

Namun banyak pula yang sengaja atau belum terketuk hatinya bahkan terjebak pada pikiran radikal tersebut di atas. Di Barat sana sudah lazim terjadi. Cerdas, kaya, hebat, mumpumi, tapi menolak menikah atau melahirkan.

Padahal dengan segala modal itu, dia bisa saja meniru St.Khadijah: menunjuk lelaki tampan dan sholeh sebagai pendampingnya.

Tidak perlu menunggu, tapi menunjuk. Jika memang pejuang kesetaraan dan emansipasi, itu satu pintu yang mungkin belum jamak ditempuh 😉

Dengan segala kualitas diri dan potensinya yang luar biasa, lelaki mana yang mampu menolak? 😉

Lelaki pun mungkin akan merasa gamang sikit jika “dijemput” perempuan bertaburan bintang tersebut, namun mereka jenis ini hanya perlu diyakinkan. Sebelum spesies sholeh dan tampan itu stoknya menipis atau malah habis (tabeq 😆)

Jika harta, jabatan, gelar saja layak diperjuangkan, mengapa pasangan hidup tidak? 😉

Bukankah menikah adalah separuh agama?

So, mau ekstrim dan radikal?
Try this at home 😅

#savejomblo
#highqualityjomblo
#Khadijah_WAY

Mindsent Perempuan kepada perempuan

•April 21, 2018 • Leave a Comment

Ini tentang MINDSET ukuran KESUKSESAN perempuan dan memilih role model.

Kartini dipuja sebab mengajari baca tulis dan terkenal di Barat, tapi dikritik kerana menerima poligami dan taat pada orang tua. Kenapa begitu?

Maia Estianty dipuji sebab menolak dipoligami dan membuktikan bisa sukses tanpa bergantung pada lelaki. Kenapa begitu?

Khadijah tidak populer, tidak dipuja-puji padahal janda tua kaya raya yang taat patuh pada suami, juga tidak dipoligami. Kenapa begitu?

Saya dianggap tidak relevan dengan menyandingkan ketiganya dalam tulisan saya (Kartini, Khadijah & Maia Estianty). Padahal ketiganya sama-sama perempuan, sama-sama terpandang, sama-sama bersuami, sama-sama muslimah.

#seriusbertanya: kenapa begitu? 😊

KARTINI, KHADIJAH & MAIA ESTIANTY

•April 21, 2018 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Mengapa Rasulullah tidak berpoligami selama menikah dengan St. Khadijah RA?

Padahal, Khadijah sudah janda saat dinikahi.
Usianya 40 tahun, tidak muda lagi.

Sedang Rasulullah 25 tahun.
Lagi ganteng-gantengnya.
Lagi kuat-kuatnya.
Lagi matang-matangnya.
Lagi jaya-jayanya sebagai pedagang yang mondar mandir ke luar negeri

Mayoritas kita terlalu mengagumi perjuangan Kartini atau wanita role model para feminis lainnya. Tidak dinafikan kontribusi positif mereka, namun kadang kita gagal fokus mengambil ibrah.

Di sini lain, kita lalai belajar pada kecerdasan St.Khadijah, seorang bisniswoman dan saudagar kaya di zamannya.
Atau St.Maryam, bunda Nabi Isa AS, atau para perempuan yang dari rahimnya melahirkan para sholeh/sholehah.

Mereka taat, patuh, tidak membangkang. Tidak sekolah tinggi-tinggi, tidak bertitel panjang-panjang, tidak eksis di publik, tidak menjadi sosialita – mereka itulah yang mendapat LABEL “terkungkung-terjajah” oleh ketaatan pada lelaki.

Apakah taat dan patuh seperti St.Khadijah dan St.Maryam membuat mereka GAGAL berperan? Tidak sukses?

Ukuran kesuksesan perempuan zaman now kini semakin bergeser, sangat matematis, sangat mengandalkan kecerdasan logika. Kesuksesan diukur dari apa yang NAMPAK secara empirik. Jika tak nampak oleh mata, dinilai tak berdaya, tak berkontribusi. Justru itu mendistorsi kecerdasan perempuan yang paripurna.

Saya pribadi tidak mengajari putri saya agar ranking 1 di sekolah, tidak memprioritaskan prestasi akademik. Saat ulangan, sering tidak belajar. Tapi, jika dia tidak sholat, dia tak boleh pergi sekolah. Dia boleh lupa rumus matematikanya, tapi tak boleh lupa mengaji. Hanya satu harapan saya padanya yang saya bisikkan setiap pergi sekolah: sholehah ya, Nak…malaqbiq ya, Nak!

Apakah saya tidak sedang menyiapkan putri saya menjadi wanita sukses kelak? 😊

Di situlah beda mindset dan cara pandang mengukur hakikat kesuksesan.

Untuk itu, dia tak perlu meniru Kartini atau Maia Estianty 😁. Dia hanya perlu meneladani St.Khadijah, wanita kaya yang berhasil memiliki lelaki tampan, segak, akhlak mulia – wanita sukses di DUNIA, sukses di AKHIRAT

Aamiinn

#bukandalamrangka😃

#ini tentang MINDSET ukuran kesuksesan perempuan

(Ut Minast 90-96: wanita2 sholehah penghuni kamar Masithah-Halimah-Khadijah-Zainab dst 😄)

Seperti gerinda…

•April 8, 2018 • Leave a Comment

Kau jatuh cinta padaku, aku akan membuatmu bingung

Jangan banyak membangun, kerana aku ingin menghancurkanmu

Jika kau membangun dua ratus rumah seperti halnya lebah;

Aku akan membuatmu tak punya rumah seperti lalat

Jika kau Gunung Qaf yang kukuh
Aku akan membuatmu berputar-putar seperti gerinda

(Diwan-i. Rumi)

Perjalanan…

•April 7, 2018 • Leave a Comment

Kamu tak punya kaki untuk pergi?

Maka, lakukanlah perjalanan ke dalam dirimu sendiri

Yang menuntun pada perubahan

Dari debu menjadi emas murni

(Rumi)

Pria Dunia…

•April 5, 2018 • Leave a Comment

Pria dunia menghiasi seakan-akan dunia adalah pengantinnya;

Sang asketik menghitamkan wajahnya dan mencabuti rambutnya;

Tapi orang yang mencintai tuhan mengabaikannya sama sekali

(Yahya Bin Mu’az)

#my soul is a woman

#Annemarie Schimmel

 
%d bloggers like this: