IBU KOLOT DAN ANAK KELAJUAN…

•February 3, 2020 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Mungkin, saya salah satu tipe orang tua yang kolot.

Bagi saya, urusan membaca-menulis-menelaah anak, harus diperkenalkan pertama kali oleh ibunya. Mendekatkannya dengan buku-buku bacaan CETAK yang dibaca menjelang tidur (hingga kertasnya lecek, koyak, dan terhambur). Biar saja, yang penting anak saya TERPAPAR sedini mungkin dengan buku-buku bacaan (urusan IT dan teknologi, belakangan)

Lambat laun, dia jadi kutu buku. Akhirnya, ketagihan membaca. Semua jenis buku dibacanya. Komik, cerpen, novel, ensiklopedia, bahkan yang agak berat untuk usianya – yang terakhir ini terpapar dari bacaan ortunya atau judul-judul skripsi mahasiswa yang bertumpuk di meja ortunya 🤐 (mungkin dari situ kosakatanya bertambah, imaginasinya berkembang, dan diksinya bervariasi)

Koleksi bukunya pun bertambah, hingga punya rak buku sendiri, yang makin hari kian penuh. Buku yang dibelinya sendiri dari jatah bulanannya, programnya “1 book, 1 month”. Program ini sekaligus mengajarinya mengelola keuangannya sendiri (yang ini akan saya ceritakan kemudian, kalau ingat lho ya… 😁)

Setelah minat baca-tulis-telaahnya berkembang pesat (ditandai dengan keranjingan nulis novel, komik, puisi, dll) barulah kebijakan soal gadget dilonggarkan. Dia punya HP yang dibelinya dari duit penghasilannya sendiri (bonus & hadiah juara lomba catur). Emaknya memberi rambu-rambu dalam bergadget:

  1. No alay
  2. No typo
  3. No online game
  4. Digunakan untuk menulis dan kreativitas lainnya.
  5. Proporsional waktu

Jadi sekarang, dia menulis novel pake pulpen dan kertas (saat di sekolah), serta menulis esai di memo HP, beserta ilustrasinya (sekarang esainya ada 14 judul).

Minggu lalu, dia menunjukkan buku tulis baru untuk novel terbarunya. Sudah jadi empat judul di dalamnya, yang ditulisnya di sekolah. Saya pun heran, kapan waktunya menulis di tengah padatnya pelajaran dan panjangnya durasi belajar di sekolah? (jangan-jangan nulis sendiri pas guru menerangkan? 🤔 – seperti kindoq na dulu? 🤫🤫🤫)

“Ini novel tentang diri kite sendiri, Umi. Dari kite lahir, hingga sekarang”, jelasnya sambil menunjukkan tulisan tangannya di buku bergaris. Emaknya membaca sekilas. Daftar isinya sudah jadi.

“Hmm…kalau isinya berisi imaginasi Radhwa, boleh disebut novel. Tapi, kalau ditulis sesuai fakta hidup Radhwa sendiri, itu namanya otobiografi. Radhwa mau yang mana?” tanya emaknya, serius.

“Apa, Umi? O-T-O… apa tadi?” Emaknya mengulangi, si bocah pun menulis di sampul. Bingung emaknya, apakah tak terlalu dini anak SD kelas 6 menulis biografi hidupnya sendiri? 😅

“Lanjut aja dulu, terserahlah hasilnya nanti jadi gimana, Nak” kata emaknya yang beraliran spontan dan sesuka hati berliterasi 😝.

(Seperti spontannya tulisan pengantar untuk link di bawah ini. Maksud hati nulis ucapan terima kasih atas apresiasi Bunda Rachmawati dan TBM Iqro’-nya, eh ini malah ngomongin yang lain. Maaf ya, Bun…maaf 🙈🙈)

Btw, ini sekilas menjawab pertanyaan,”Benarkah Radhwa sendiri yang menulis novelnya?” 🤗

http://tbm1qro.blogspot.com/2020/01/tambahan-koleksi-dari-penulis-cilik.html

DEKATKAN DENGAN BUKU

•December 29, 2019 • Leave a Comment

Sekarang, dia doyan menulis dan menggambar di tablet kindoq na. Beberapa hasilnya telah terbit di Kaltim Pos dan website Indonesiawindow.com

Dia tak pernah kami tuntut untuk ranking 1 di kelas, yang penting rajin membaca. Dia rutin beli buku baru, 1 buku/1 bulan. Kadang dirapel, beli beberapa buku sekaligus. Cuma dengan tumpukan bacaan barulah yang membuatnya betah berdiam diri di kamarnya (“aman sikit dunia” 🤭)
Tanpa bacaan baru, dia akan bosan dan “mare’nges” sepanjang hari.

Kalau tidak disibukkan pegang buku, anak-anak akan sibuk pegang gadget. Gadget tak terhindari, memang. Asal proporsional dan ada faedahnya: menghasilkan karya, misalnya. Itu yang kami tekankan pada Radhwa. Sekarang, dia mulai nulis esai (yang lebih mirip curhatan uneg-unegnya 😁)

ini sekaligus menjawab pertanyaan seseorang tentang bagaimana mulanya Radhwa suka menulis hingga menghasilkan dua novel solo (dan beberapa draft lain).

dekatkandenganbukusejakbayi

JANGAN MENANGIS, UMI!

•December 29, 2019 • Leave a Comment

19 Desember lalu, dia jadi asisten kindoq na ngisi materi di acara puncak Hari Ibu di Kanwil Pajak.

Saat i kindoq presentasi, dia klik sana klik sini dengan kamera SLR tua. Setelah itu, dia turun ke lantai dasar nyari makan di acara bazar (lapar, katanya).

Gimana hasil jepretan kameranya?
Beughh…nggak ada yg layak tayang 😖
Padahal, jarang-jarang kindoq na berkebaya dan pake high heels🤪

Malam hari, dia menunjukkan tulisan di memo hp. Sebuah puisi yang cukup panjang dan sukses membuat emaknya sebak berkaca-kaca.

“Jangan nangis, Umi!” cegahnya
Lho, kenapa?
“Nanti runtuh batu bata rumah kite di surga!”

“Oh… itu kalau seorang ibu nangis sedih gara-gara anaknya . Yang ini nangis gembira, Nak” i kindoq memeluknya

Dengan mengirimnya ke media, akankah ada ibu lain yang akan merasakan keharuan yang sama dengan kindoq na? 🥺

(Terima kasih, Kaltim Pos) 🙏

CERPEN SI BUDAK

•November 11, 2019 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Semenjak dua jilid novelnya (berjudul ‘Asgit 1’ dan ‘Asgit 2’) diterbitkan bulan lalu dan dipesan banyak orang, si budak ini jadi makin semangat menulis. Sekarang, dia sedang menulis novel lagi dengan setting luar angkasa. Dia bercerita tentang nama-nama tokohnya yang terdengar pelik di telingaku.

“Ada aliennya juga”, kata Radhwa ngasi bocoran beberapa hari lalu.

Saya mengernyit, belum bisa membayangkan bagaimana agaknya cerita anak kecil tentang ruang angkasa 🤔. Entah dari mana pula idenya.

Mulai terbiasa menulis cerita bersambung yang panjang, dia sempat bingung menulis cerita pendek dalam satu lembar saja. Katanya, wali kelasnya di SD Muhammadiyah 4 (Pak Nur Mannan), memintanya menulis cerpen untuk mading sekolah dengan tema kesehatan.

Akhirnya, setelah dapat masukan dari abangnya (Aan) mengatur margin dan paragraf, jadilah cerita mini satu halaman yang ditulisnya dalam waktu singkat. Di-print selembar, lalu pagi tadi, dia beri sedikit ornamen gambar dengan pulpen warna glitters. Cukup simple.

(Berbeda waktu di kelas 4 saat dia lagi doyan membuat handcraft, puisinya untuk lomba mading dihias sedemikian rupa dengan teknik pop-up tiga dimensi dengan ornamen yang ramai. Mungkin kerana wali kelasnya perempuan ketika itu (Ustadzh Titim), sehingga Radhwa pun lebih detil membuat kreasi mading).

Pagi ini, hasil corat-coret praktis terbarunya itu dia bawa ke sekolah. Tak lupa membawa dua jilid novel perdananya untuk dijual ke guru dan teman-temannya.

Demikianlah, belakangan ini dia menjalani “profesi” baru: penulis sekaligus paqbalu (penjual) buku 😅.

Secara tak langsung, dia sedang belajar berniaga dengan produk hasil karyanya menulis.

“Laku tak?”, pancingku.

“Lumayan…” jawabnya menggantung. Dia menjinjing kantongan berisi novel jualannya.

Saya tau bagaimana menantangnya jualan buku ke anak SD sekarang yang lebih suka pegang gadget daripada pegang buku bacaan. Betapa jualan eceran buku bagi anak SD seperti dia takkan selaris jualan donat dan mainan lainnya.

Saya tersenyum dan memeluknya erat.

“Semangat ya! Cayooo!,” ucapku menyemangati.

Selalu ada pelajaran dari setiap proses yang kau lalui, sambungku dalam hati. Tentu, dia tak dengar. Tapi, saya yakin bisa dia rasakan 🥰

#menularkanvirusliterasi

#budak (Melayu) = bocah

#buntut-buntutnya promo buku 🤭

Launching Novel ASGIT!

•October 29, 2019 • Leave a Comment

(Unis Sagena)

Selepas puasa facebook selama 1,5 tahun, ada yang nanya kenapa saya aktifkan akun ini lagi. Yang jelas, bukan kerana pelantikan presiden & wapres sudah selesai 😊(perihal itu sudah terlampaui. Biarkan para “pakar” medsos menganalisis dan menguliti segala yang tersurat pun tersirat – termasuk menelanjangi pihak lawannya, dengan bahasa yang ruarr biasa pahit, kasar, bahkan brutal)

Saya hanya “buka puasa” sebentar aja, mungkin. Hanya ingin memanfaatkan momen Bulan Bahasa ini dengan berbagi karya perdana dari putriku. Dia kelas 6 SD sekarang. Setelah tamat, dia akan merantau, insya Allah.Saya cemburu padanya. Sekaligus merasa bersalah. Dia memiliki buaanyakk naskah cerita, puisi, dan komik yang belum dieksekusi untuk diterbitkan. Kindoq na yang kewalahan.

Ada satu hal yang saya sembunyikan: biaya cetak 2 novelnya itu sebagian berasal dari tabungannya sendiri. Duit yang dikumpul-kumpul dari hadiahnya juara catur selama bertahun-tahun ini. Sebagian lagi dari simpanan kindo na.Sepadankah dengan laba penjualannya?Tentu tidak. Biaya produksinya cukup besar kerana gambar-gambarnya dicetak berwarna, belum termasuk ongkir. Target pembacanya memang murid SD-SMP.

Di situlah misinya. Mengajari Radhwa untuk berkarya walau harus berkorban dan mengambil resiko: tekor 😅. Selebihnya, anggap saja wakaf sosial agar kerugian materi tergantikan dengan amal jariah.

Misi kedua, mengajari padanya bahwa lebih baik duitnya dipakai untuk hal yang positif, ketimbang pelan-pelan terkuras untuk keinginan konsumtif ala anak-anak.Misi ketiga, menanamkan minat dan gairah membaca buku pada “generasi tunduk” itu. Semoga mereka tak hanya rajin beli pulsa data dan gadget, tapi juga nggak pelit beli buku.

Memang, tak semua orang suka baca buku, apalagi menulis. Namun minat bisa ditumbuhkan, bisa dipupuk di usia dini. Dengan mendekatkan mereka pada buku, walaupun nggak dibaca tapi akan merasa familiar. Itu juga adalah investasi jangka panjang, yang mungkin baru akan terasa faedahnya beberapa waktu kemudian.

Tugas kita hanya menanam, biar anak kita yang memetiknya. Kelak.

#pemesanan wa 0821582686440 😀

Debu

•September 17, 2019 • Leave a Comment

Sucikan dirimu dari dirimu, dan jadilah debu
Maka rumput akan tumbuh dari debumu itu.

Dan kalau kau menjadi kering seperti rumput, terbakarlah dengan baik.
Oleh kerana dari apimu akan bersinar cahaya.

Dan ketika kau menjadi debu kembali kerana terbakar, maka debumu itu adalah obat mujarab

#Rumi

UNTUKMU…

•September 14, 2019 • Leave a Comment

Selamat jalan ke negeri para Darwish, wahai kau yang di sana.

Semakin jauh kakimu melangkah, semakin dalam pula jiwamu harus terpatri.

Bukan pada orang, pada tempat, pada citra, pada dunya

Melainkan, pada destinasi yang hakiki: PEMBERI ilmu itusendiri

 
%d bloggers like this: