Sebelum lupa berpatah balik…

•December 3, 2016 • Leave a Comment

​(Unis Sagena)
Hati nurani, tetaplah di situ dan ingatkan  selalu
Jika sesekali kulalaikan dirimu, maka tamparlah pipiku!
Hingga merah

Tampar lagi, walau darah di bibirku

Tampar terus, hingga aku terhenyak
 Jika mulai kuabaikan suaramu, maka memekiklah! 
Teriaklah sekencang mungkin, bertalu-talulah!

Meski itu cuma untuk secuil kembang gula yang bukan milikku atau sebutir nasi yang kuambil dari pinggan orang lain
Wahai hati, mengeraslah untuk segala perhiasan dunia

Yang takkan kubawa mati, sesilau apapun itu
Wahai jiwa, melembutlah untuk ukhrawiku Menelan ibrah dan nasehat 
Sebelum semua terlambat

Sebelum terlampau jauh mencari

Hingga lupa berpatah balik

Lupa melutut dengan kerelaan
#selftalk

#usagena

LEBAM YANG DIAM 

•November 26, 2016 • 1 Comment

​(hanya “melepas batuk di tangga”)

Tabayyun, konfirmasi, atau check and recheck sudah lama diabaikan orang

Begitu saja percaya. Begitu saja menelan. Melupakan bagian-bagian yang baik, berpegang pada bagian-bagian yang buruk. Seolah tak satu pun kebaikan pernah terbagi. 

Padahal, kurun masa terbentang jauh. Padahal, pundak dan ingatan pernah diberi. Betapa mudah kita melupa.

Lalu fitnah menyebar. Menebar serupa virus. Menciderai banyak hati, lebam dalam diam. 

Bukan satu, tetapi dua. Tetapi tiga. Tetapi lama. Tetapi dalam.

Aduhai, adilnya manusia. Zalimnya saudara. Angkuhnya dagu yang terangkat. Menganiaya tanpa disadari.

Jika benar segala kisah, mengapalah lidah menepikan hati?
#repost tulisan Ramadhan 2016

ILMU TANPA IJAZAH

•November 17, 2016 • Leave a Comment

​Unis Sagena)

Nak, bersekolahlah bukan demi ijazah atau gelar, tapi demi ilmunya. 

Jika hanya selembar ijazah, semua orang bisa membuatnya sendiri. Apa yang tak bisa dipalsukan saat ini?

Jika hanya demi gelar, semua bisa memasangnya sendiri. Apa yang tak bisa dibeli saat ini?

Namun ilmunya, tak bisa dipalsukan, tak bisa dibeli. 
Ilmu yang didapat bisa saja sama, yang membedakan adalah:
pada siapa kau belajar

dengan adab bagaimana

dengan cara apa dan tujuan bagaimana

Bukan hanya harta dan jabatan yang akan dipertanggungjawabkan, namun ilmu juga akan dihisab.
So, maafkan kindoq-mu yang tak mendampingimu kerja PR atau saat ulangan sekolah. Santai aja jika kamu tak ranking 1 di kelas atau tanpa angka 100 di ulangan dan raportmu.
 Sepanjang kamu masih gemar membaca komik, majalah-majalahmu,hingga buku politik milik emakmu, lalu menulis acak di mana saja – bagiku, itu sudah lebih dari cukup. 

Ilmu akan kau dapatkan dari membaca dan menulisnya, kendati tanpa diganjar ijazah atau piagam penghargaan. So, jangan sibuk kejar angka cantik di raportmu ya
 
Nak, nabilang orang fesbuk: dunia ji ini, cika’! 😄

#TADIKA PERPADUAN 

#Taman Kajang Utama, Selangor Darul Ehsan

#repost FB

Dekat-dekat Mana?

•November 13, 2016 • Leave a Comment

​(Unis Sagena)

Apa yang kita tulis atau tampakkan  adalah pengejewantahan identitas diri. Lambat laun membentuk “branding” diri sendiri, baik disengaja pun tidak.  
Di antara dua kutub ekstrim: pembenci atau pencinta, kita berada di antara spektrum itu. Yang berkelindan, tarik menarik, hingga mungkin berhenti di satu titik.
 Sebelah mana persisnya?

 Dekat-dekat yang mana? 

# (Jangan) tanyakan pada rumput yang bergoyang 😄

😛 (salahpencetikon😁)
#ini tentang batas

#re-post status FB

PAGAR IDENTITAS (asal tulis judul 😁)

•November 12, 2016 • Leave a Comment

​(Unis Sagena)

Di diri kita melekat berbagai identitas: 

Identitas sebagai warga dunia

Identitas sebagai bangsa dan negara

Identitas yang menunjukkan keyakinan agama

Identitas yang menunjukkan daerah (asal pun domisili)

Identitas yang menunjukkan komunitas dan habitat

Identitas yang menunjukkan etnis

Identitas yang menunjukkan pola pikir 

Identitas yang menunjukkan karakter personal

Dan seterusnya…
Semuanya berkelindan sebagai pribadi yang paling pribadi hingga sebagai penghuni jagad raya ini. 
Saat Indonesia dihina di luar sana, banyak yang berteriak: Akan kutampar siapa saja yang menghina bangsaku! 

(Begitu bunyi stiker di motor anak2 muda zaman mudaku dulu 😅)
Kenapa? Kerana saking cintanya. 
Konon, kadar  cinta yang berbeda turut mempengaruhi level reaksi seseorang. Sehingga wajar jika ada yang mencak-mencak, ada pula yang masa bodoh, bahkan ada yang balik mencela identitasnya sendiri.
Itu baru tentang identitas ke-Indonesia-an. Bagi yang mencintainya sanggup main gampar-gamparan. 

Belum tentang identitas keagamaan, identitas kesukuan, identitas kedaerahan, identitas komunitas, identitas keluarga, identitas pribadi. Bagi yang menganggap identitas itu penting, akan sanggup perang-perangan…mati-matian. Ada yang mengungkapkannya terang-terangan, ada pula yang tersirat. 
So, penting bagi kita ekstra hati-hati. Pesan nenek, HATI-HATI!

 Apatah lagi di dunia maya yang orang-orang mudah sekali tersulut. Cibiran dan kesinisan juga menunjukkan identitas saat itu menjadi pola yang sengaja ditampakkan. 

Kepada siapa cibiran dan kesinisan itu? 

Dengan tujuan apa dilontarkan? 

Supaya kelihatan cerdas atau sekedar kenes? 

Untuk menginspirasi orang atau memprovokasi?

Well, terserah saja…tapi jika menyinggung identitas di luar identitas diri sendiri, di situ yang BAHAYA. Sentimen dan antipati dekat-dekat dengan kebencian. So, sekali lagi: hati-hati. Gonjang-ganjing belakangan ini terjadi sebab ada yang offside. Kita tak perlu menambah panjang daftarnya lagi.



 Mirip pesan yang beberapa hari ini viral: jangan loncat pagar. Jaga pekaranganmu sendiri. Ada batas yang perlu dijaga, sekalipun benci, sebenci-bencinya.

Yuk, bikinG batas. B-a-t-a-s
Bagaimana, Cika’? Ingat-ingat itu nah!

#menasehatidirisendiri😇😇

#disalin dari status FB🙂

SIAPA YANG MENISBIKAN SIAPA?

•November 10, 2016 • Leave a Comment

​(Unis Sagena)

Kisah tentang Nabi Ibrahim AS ini adalah salah satu cerita pengantar tidur favorit Radhwa.
Bagi orang tuanya, jauh lebih penting menanamkan nilai-nilai tauhid dan etika moral sejak dini daripada mengejar nilai-nilai akademik di sekolahnya. Tak pernah kami wajibkan belajar saat ulangan atau kerja PR di malam hari saat dia penat pulang mengaji. Tak pernah kami patok bahawa nilai ulangannya harus tertinggi atau ranking 1 di kelas.  Sudah biasa jika di musim ulangan, dia malah baca komik, majalah B*b*, menulis diari atau menggambar tak jelas juntrungannya.  Walhasil, sejak kelas 1 hingga sekarang (kelas 3), rankingnya  sering paling buntut di kelas (pernah ranking 15, 22, 26 dari 32 murid). Sampai-sampai, saya diprotes seseorang keheranan.

“Unis! Anakmu tak kau ajarikah?? Keluarga besarnya pendidik, ibu-bapaknya dosen, neneknya mantan kepsep SMA top…masa’ cucunya “kanjoli’?!” 

Saya cengar-cengir saja. Saya memang mengambil langkah agak anti-mainstream soal pendidikan anak. Ada pertimbangan tertentu mengapa kami tak mengikutkan dia bimbel dan tak memprioritaskan nilai-nilai raportnya. Kami tak ingin ranking tinggi dan prestasi-prestasi akademik dikejar namun mengabaikan agamanya. 

Sudah terlampau sering melihat dan bersentuhan langsung dengan orang-orang cerdas ber-IQ tinggi dan berpendidikan tinggi tapi nampak kering jiwanya. Angkuh dalam berilmu. Pengetahuannya dipakai untuk mengolok-olok sesuatu yang sewajarnya dimuliakan.  Merasa jago dan mentereng dengan teori-teori canggih. Memuja tokoh-tokoh pemikir yang di ujung hidupnya malah berakhir tragis. Menjunjung tinggi logika hingga Tuhan pun menjadi nisbi. Berdalih Tuhan tak perlu dibela apatah lagi disembah –  bahkan, ramai percaya bahawa Tuhan itu sesungguhnya tiada. 

Semua ingin diterokai dengan logika, seolah kepandaian manusia tak berujung dan cara semesta bekerja hanyalah seujung kuku belaka.Padahal, yang maya adalah manusia. Dengan sekali tarikan di ubun-ubun, tidaklah bernyawa. Dengan sekali tiupan, kembali menjadi tiada. Lantas Tuhan dicabar dengan sungguh, ayat-ayat dianggap dusta, enggan percaya tanpa sebarang pembuktian.

Dunia pula ditempatkan sebagai penghulu semua perkara, final segala peradaban. Seolah dunia kekal abadi dan hidup berputar di situ selamanya. Tanpa ada akhir yang perlu dipertanggungjawabkan. Aduhai…

 Jika agama isinya melulu dogmatis  dan ayat-ayat nasihat adalah rekaan belaka, maka para nabi semuanya gagal paham. Sungguh tak paham logika, tak tahu berdialektika. Termasuk Nabi Ibrahim AS 😇

#ilmu dan iman, bukankah seyogyanya satu paket?#kontemplasi

#naudzubillahimindzalik

#sumber gambar: FB Sayyidah Murtafidah

😍

Untuk seseorang (aku bimbang menyebut namamu)

•October 19, 2016 • 2 Comments

(Unis Sagena)

Mengapa kau pinta padaku sebaris puisi? 

Aku hanyalah angin yang kembara mencari bentuk, mengitari mayapada dan segala muasal Sebelum lesap ke titik penjuru pencaharian

Tentang hidup yang mendera serupa godam bertalu-talu di dada, sudahkah membuatmu remuk dan luluh lantak? Hingga tiada satupun kata yang layak mewartakan?

Di situ, waktu mengiris-ngiris jantungmu. Pipih dan tipis. Luka-luka berontak, menghantam dinding terdalam. Terseguk di balik pintu. Menekuk tubuh. Lantai beku dan dingin. Bilik kelam dan jam yang bisu…

Nikmati sayatannya. Rasakan ngilu hingga tak ada lagi mampu mencabar kelu

Namun, adakah yang lebih puitis dari luka-luka yang menagih untuk dilepaskan? Untuk diangkat ke arasy-Nya, ke tempat segalanya harus dikembalikan?

Kerana luka terpedih, apatah bahagia yang membuncah, pun segala yang bernama keindahan sekaligus nestapa tak terperi, hanyalah titipan yang dipinjamkan. 

Kita hanya perlu melepasnya, mengangkatnya dengan satu kata: reda

Maka, tunggu ia kembali. Tak perlu dicari di luar sana. Hanya kau yang tahu: siapa yang merengkuhmu dengan segala keredaan, adalah dia yang layak kau dekap segenap jiwa. 

Yang bertarung untuk membahagiakan, melukai dirinya sendiri

Semata

Untukmu…

(19/10/16)

 
%d bloggers like this: